BOYOLALI — Di tangan para pengrajin Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, tanduk sapi dan kerbau yang tampak sepele disulap menjadi kerajinan bernilai jual tinggi. Produk kerajinan tanduk dari kaki Gunung Merbabu ini bahkan telah menembus pasar Jepang, dengan permintaan mencapai ribuan potong setiap bulannya.
Salah satu pengrajinnya, Naryoto, mengaku menekuni usaha ini secara turun-temurun. Seluruh tahapan pengerjaan dilakukan secara teliti untuk menjaga kualitas produk. Tanduk yang semula hanya limbah peternakan, di tangannya berubah menjadi sisir, alat kerokan, gua sha, gantungan kunci, hingga gelas sloki yang laku keras di dalam dan luar negeri.
Untuk bahan baku, tanduk sapi diperoleh dari wilayah Boyolali sendiri, sementara tanduk kerbau didatangkan dari berbagai daerah seperti Kalimantan Timur, Demak, Kudus, Aceh, Makassar, hingga Bukittinggi. Kebutuhan bahan baku mencapai sekitar satu ton setiap bulan. Harga bahan baku pun bervariasi: tanduk putih bisa mencapai Rp700.000 per kilogram, sedangkan tanduk sapi berkisar Rp15.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
Baca juga:
- UMS Dampingi UMKM Zahin Snack di Simo Boyolali, dari Hitung HPP hingga Pemasaran Digital
- Julukan Kota Susu Bukan Sekadar Nama, Ini Peluang Bisnis Olahan Susu Boyolali untuk UMKM
- Usaha Kuliner Rumahan: 7 Langkah Memulai Bisnis Makanan dari Dapur Sendiri
Dalam menjalankan usahanya, Naryoto dibantu tujuh orang pekerja yang sebagian besar bekerja sambilan karena memiliki pekerjaan utama sebagai petani atau buruh pabrik. Sehari, satu orang pekerja mampu menghasilkan sekitar 30 hingga 40 alat kerokan. Pemasarannya dilakukan lewat agen di Solo, Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta, hingga ke mancanegara. “Pemasarannya lewat agen ya, dari Solo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta. Bahkan hingga mancanegara itu ke Jepang, itu ada gelas sloki dari tanduk. Ada buyer-nya, kalau saya hanya produksi saja,” ujar dia.
Sejumlah produk seperti kerokan, gua sha, dan sisir diminati karena dipercaya memiliki manfaat kesehatan serta terbuat dari bahan alami. “Plastik juga kan dibuat dari unsur kimia, kalau ini kan dari hewan jadi alami,” kata dia. Selain untuk produksi sendiri, Naryoto juga menjual bahan tanduk kepada pengrajin lain, seperti pembuat pegangan wayang di Delanggu, pengrajin pegangan golok di Jawa Barat, hingga pembuat pemukul alat musik saron di Solo.
Sementara itu, Kepala Desa Urutsewu, Sri Haryanto, menyebut desanya memiliki lebih dari 100 pelaku UMKM dari total sekitar 7.000 warga. Pemerintah desa pun aktif memberikan pelatihan dan dukungan usaha agar produk-produk lokal seperti kerajinan tanduk terus berkembang dan menembus pasar yang lebih luas.
Sumber: Solopos/Espos, liputan kerajinan tanduk Boyolali.








