BOYOLALI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali mencatat sebanyak 7,6 juta liter air bersih telah disalurkan ke 13 kecamatan di Kabupaten Boyolali hingga Minggu (11/10/2026). Sebanyak 43.044 jiwa terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.
Penyaluran bantuan air bersih dilakukan melalui dropping air ke desa-desa yang sumber airnya mulai mengering. Belik-beluk sungai yang biasanya menjadi andalan warga di sejumlah desa kini debitnya menyusut seiring musim kemarau yang berkepanjangan.
BPBD Boyolali sebelumnya menyiapkan 1,25 juta liter air bersih untuk menghadapi kemarau 2026, dengan wilayah Ketoyan dan Samiran menjadi yang lebih dulu mengajukan dropping air. Seiring meluasnya dampak kekeringan ke belasan kecamatan, jumlah distribusi bantuan air pun terus ditambah.
Baca juga:
- Enam Embung Pudam Boyolali Kering, Air Pelanggan Dipastikan Aman
- Umbul Tlatar, Mata Air 650 Liter per Detik di Kaki Merbabu yang Jadi Lumbung PAD
Selain dropping air bersih, BPBD Boyolali juga melakukan survei geolistrik sebagai solusi jangka menengah dalam mengatasi kekeringan. Survei tersebut dilakukan untuk mencari potensi sumber air di dalam tanah di sejumlah wilayah terdampak.
Pemkab Boyolali juga membangun 73 sumur dalam untuk mengatasi dampak kekeringan hingga Oktober 2026. Satu sumur dalam diprediksi mampu mengairi 7–10 hektare lahan sawah, sehingga diharapkan membantu petani yang lahannya kekeringan.
Musim kemarau 2026 di Boyolali diperkirakan berlangsung hingga tujuh bulan dengan puncaknya pada Juli–Agustus lalu. Sebanyak 11 kecamatan tercatat rawan kekeringan, sedangkan 9 kecamatan lainnya siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, BPBD mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih. Warga juga diminta tidak membakar lahan sembarangan dan memastikan sumber api benar-benar padam untuk mencegah kebakaran lahan yang kerap terjadi saat kemarau.
Bagi warga yang wilayahnya terdampak kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih, dapat melaporkan kepada pemerintah desa setempat atau menghubungi BPBD Boyolali agar segera ditindaklanjuti.
Sumber: Solopos.com


