Boyolali.net — Selasa (6/10/2026) — Kemarau panjang membuat enam dari delapan embung yang dikelola Perumda Air Minum (Pudam) Tirta Ampera Boyolali mengering. Meski begitu, manajemen Pudam memastikan pasokan air bersih bagi pelanggan masih aman hingga akhir 2026, seperti dilaporkan Radar Solo dan iNews Boyolali.
Keterangan itu disampaikan jajaran direksi Pudam, Senin (5/10/2026). Sehari kemudian, Pudam juga memaparkan perkembangan rencana mengambil air dari mata air Senjoyo di Kabupaten Semarang untuk wilayah Boyolali utara.
Intinya
- Dari delapan embung Pudam, hanya Embung Musuk dan Embung Pusporenggo yang masih berair.
- Pudam menyatakan air pelanggan aman sampai akhir tahun, dengan rekayasa aliran dan interkoneksi pipa.
- Pudam sudah menyalurkan sekitar 200–300 tangki air bersih bersama BPBD, masing-masing sekitar 5.000 liter.
- Rencana mata air Senjoyo mendapat izin 120 liter per detik dari pusat, tetapi kerja sama masih tahap awal.
Tinggal dua embung yang masih berair
Direktur Teknik Pudam Tirta Ampera Yuffi Agtria Primajaya menyebut wilayah yang paling rentan krisis air adalah kawasan yang pasokannya bergantung pada embung. “Kami melakukan pemantauan ketat terhadap sisa kapasitas air di embung-embung tersebut. Pengolahan air dibatasi dan diatur sesuai kebutuhan agar cadangannya dapat bertahan hingga perkiraan musim hujan tiba,” kata Yuffi, dikutip Radar Solo dan iNews Boyolali.
Menurut data Pudam yang dikutip kedua media, embung yang sudah kering antara lain Embung Ringinlarik, Melikan, Cabean, dan Watu Gajah. Untuk menyiasatinya, Pudam mengandalkan sumur pendukung dan sistem interkoneksi pipa. Bila satu embung habis, aliran dialihkan dari sumber lain dengan sistem buka-tutup.
Di Kecamatan Musuk, Kepala Desa Musuk Febrian Catur Nugroho kepada Radar Solo, Selasa (6/10/2026), menyebut Embung Musuk 2 sudah kering total sekitar sepekan terakhir. Menurut dia, penyusutan dimulai sejak Agustus dan tahun ini lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang biasanya baru kering pada Oktober atau November. Febrian menyebut debit Embung Musuk 1 masih aman.
Radar Solo mencatat Embung Musuk 2 seluas sekitar 2,4 hektare itu selama ini dikerjasamakan untuk menyuplai air bersih Pudam. Febrian menyebut kebutuhan harian warga desanya belum berstatus krisis karena masih ada aliran sungai, tetapi ia khawatir krisis meluas bila hujan belum turun hingga November atau awal Desember.
Pudam: air pelanggan aman sampai akhir tahun
Direktur Utama Pudam Tirta Ampera Iwan Marwanto mengakui sejumlah sumber air baku, terutama sumber air permukaan yang mengandalkan rembesan, mengalami penurunan debit. Namun, ia memastikan layanan ke pelanggan belum terganggu.
“Untuk pelanggan Pudam, sampai dengan bulan Oktober saat ini masih aman. Sampai nanti akhir tahun juga masih aman,” ujar Iwan, dikutip iNews Boyolali dan Radar Solo.
Kedua media juga melaporkan Pudam menyiapkan skenario terburuk bila kemarau berlanjut hingga awal 2027, sejalan dengan peringatan BPBD Boyolali soal kemarau yang bisa berlanjut. Langkahnya berupa pembatasan waktu distribusi, penjadwalan aliran air, dan pengiriman tangki darurat ke lokasi paling kritis. Untuk jangka panjang, Pudam membangun penampungan (catchment) untuk menangkap aliran permukaan di tanah yang porus agar bisa dialirkan kembali ke embung.
Rencana mata air Senjoyo masih tahap awal
Di luar embung, Pemkab Boyolali dan Pudam menjajaki pemanfaatan mata air Senjoyo di Kabupaten Semarang untuk wilayah Boyolali utara. Menurut Radar Solo, Selasa (6/10/2026), Iwan menyebut Pudam sudah mendapat izin pengambilan debit 120 liter per detik dari pemerintah pusat. Pada tahap awal, pasokan itu ditargetkan melayani sekitar 11 ribu pelanggan.
Namun, Iwan menegaskan kerja sama dengan Pemkab Semarang baru sebatas pembicaraan awal. “Kondisinya baru sebatas pembicaraan awal dan belum mengerucut pada kesepakatan akhir,” ujarnya, dikutip Radar Solo. Kompensasi, respons warga sekitar sumber, hingga tarif untuk pelanggan Boyolali belum dibahas, dan waktu air bisa dialirkan belum dapat dipastikan.
Pudam dan Pemkab juga wajib menyiapkan lahan sendiri untuk instalasi pengolahan air, tandon, dan bangunan intake. Menurut Iwan, anggaran awal sekitar Rp160 miliar, tetapi kemungkinan direvisi menyesuaikan harga material. Rencana memakai mata air Senjoyo dan Serang untuk Boyolali utara sudah disampaikan Iwan sejak akhir 2025, seperti diberitakan Espos.id pada November 2025.
Informasi penting untuk masyarakat
- Menurut Pudam, pasokan untuk pelanggan saat ini masih aman hingga akhir 2026.
- Bila kemarau berlanjut, Pudam menyiapkan pembatasan waktu dan penjadwalan aliran air.
- Selain penyaluran bersama BPBD, Pudam melayani permintaan dropping air atas permohonan warga atau kelompok sosial, menurut Radar Solo dan iNews Boyolali.
- Warga dapat ikut menjaga cadangan air dengan cara menghemat air bersih saat kemarau.
Apa selanjutnya?
Pudam masih melengkapi dokumen administrasi dan tahapan verifikasi untuk rencana Senjoyo. Sementara itu, upaya mencari air tanah di wilayah utara juga berjalan, salah satunya lewat survei geolistrik yang menemukan lima titik air tanah.
Sumber
- Radar Solo – Hanya Tersisa 2 Embung yang Ada Airnya: Pudam Boyolali Siapkan Skenario Terburuk (5/10/2026)
- iNews Boyolali – Enam Embung di Boyolali Mengering, Pudam Pastikan Air Pelanggan Aman hingga Akhir 2026 (6/10/2026)
- Radar Solo – Embung Musuk 2 Boyolali Mengering Lebih Cepat dari Tahun Sebelumnya (6/10/2026)
- Radar Solo – Sedot Mata Air Senjoyo di Semarang, Pudam Boyolali Harus Siapkan Minimal Rp160 Miliar untuk Infrastruktur (6/10/2026)
- Espos.id – Atasi Kekeringan di Boyolali Utara, Mata Air Senjoyo dan Serang akan Digunakan (1/11/2025)






