Hujan Belum Merata, BPBD Boyolali: Kemarau Bisa Berlanjut ke Awal 2027

Berita25 Views

Boyolali.net — Sabtu (3/10/2026) — Hujan ringan mulai membasahi sejumlah wilayah Boyolali dalam beberapa hari terakhir. Namun, bagi warga yang masih bergantung pada kiriman air bersih, kabar ini belum berarti kemarau sudah berakhir.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan hujan memang sudah turun di beberapa wilayah, tetapi persebarannya belum merata. Merujuk prediksi BMKG, ia menyebut kemarau dan pengaruh El Nino diperkirakan berlangsung sampai akhir tahun dan tidak menutup kemungkinan berlanjut hingga awal 2027. Pernyataan itu dimuat TribunSolo.com dan Fokus Jateng pada Jumat (2/10/2026), serta Espos sehari sebelumnya.

Intinya

  • Hujan ringan sudah turun di beberapa wilayah Boyolali, tetapi belum merata (BPBD Boyolali, 2/10/2026).
  • Merujuk BMKG, BPBD menyebut kemarau berlangsung hingga akhir tahun dan bisa berlanjut ke awal 2027.
  • Per 30 September 2026, bantuan air bersih mencapai 6,3 juta liter untuk 13 kecamatan (Espos).
  • Damkar Boyolali mencatat 112 kebakaran sepanjang September 2026, 92 di antaranya kebakaran lahan (Espos).

Apakah hujan yang turun sudah mengakhiri kemarau?

Belum. Menurut Ari, hujan yang turun sejauh ini sesuai prediksi BMKG: meski berada dalam pengaruh El Nino dan musim kemarau, sejumlah wilayah masih berpeluang mendapat hujan ringan dengan durasi singkat. Waktu dan persebarannya belum bisa dipastikan karena bergantung pada dinamika cuaca.

“Beberapa daerah sempat turun hujan beberapa waktu lalu. Kemarin beberapa wilayah alhamdulillah juga sudah turun hujan, cukup menyegarkan, dan kalau kita lihat di beberapa wilayah juga cukup mendung, tetapi memang potensi turun hujannya belum merata,” kata Ari, seperti dikutip TribunSolo.com.

Soal kapan musim hujan benar-benar datang, Ari berharap hujan sudah turun pada Desember. “Tetapi tidak menutup kemungkinan juga akan berlangsung sampai awal tahun 2027,” ujarnya, seperti dikutip TribunSolo.com dan Fokus Jateng.

Bagaimana kondisi bantuan air bersih?

Kepada Espos, Ari menyebut per 30 September 2026 BPBD Boyolali bersama pemangku kepentingan terkait telah menyalurkan 6,3 juta liter air bersih. Bantuan menjangkau 13 kecamatan, 47 desa/kelurahan, dan 152 dukuh.

Penyaluran, kata dia, akan menyesuaikan kebutuhan di lapangan dan Pemkab Boyolali berkomitmen membantu sampai kekeringan berakhir. Bila kemarau berlanjut hingga awal 2027, kebutuhannya diperkirakan bisa lebih dari 9 juta liter, bahkan sekitar 11 juta liter, seperti dikutip Espos.

Selama masih ada hujan harian berdurasi singkat, BPBD mengimbau warga menabung air hujan. Panduan menghemat air di rumah bisa dibaca di cara hemat air bersih saat kemarau panjang.

Mengapa warga diminta waspada kebakaran?

Lahan yang masih kering membuat api mudah menjalar. “Seiring meningkatnya kasus kebakaran yang ada di Kabupaten Boyolali, kami mengimbau masyarakat untuk mengawasi pembakaran sampah. Mewaspadai puntung rokok yang dibuang sembarangan karena berpotensi menyebabkan kebakaran lahan,” kata Ari, seperti dikutip TribunSolo.com.

Peningkatan itu tergambar dari data Damkar Boyolali. Kabid Damkar Satpol PP Boyolali, Supriyono, kepada Espos menyebut ada 112 kejadian kebakaran di Boyolali sepanjang September 2026, dengan 92 di antaranya kebakaran lahan. Damkar menangani total 117 kejadian, termasuk lima bantuan (BKO) ke daerah lain.

Menurut data yang sama, jumlah kebakaran naik tajam sejak pertengahan tahun: 20 kejadian pada Juni, 45 pada Juli, 61 pada Agustus, lalu 112 pada September. Sepanjang Januari hingga September, Damkar mencatat 264 kebakaran. Kebakaran lahan paling banyak terjadi di Boyolali bagian utara, antara lain Wonosegoro, lalu Mojosongo dan Ngemplak.

Supriyono menyebut penyebab kebakaran lahan mayoritas kelalaian manusia, misalnya membakar sampah atau lahan tanpa memastikan api benar-benar padam. Ia juga meminta warga tidak membakar tanaman untuk membuka lahan. Contoh kejadian sebelumnya bisa dilihat pada laporan kebakaran lahan di lereng Merapi dan Wonosegoro.

Informasi penting untuk masyarakat

  • Awasi pembakaran sampah sampai api benar-benar padam, dan jangan membuang puntung rokok sembarangan (BPBD dan Damkar Boyolali).
  • Jangan membakar tanaman atau lahan untuk membuka lahan (Damkar Boyolali, via Espos).
  • Di rumah, hindari menumpuk stop kontak listrik dan cek kompor sebelum keluar rumah (Damkar Boyolali, via Espos).
  • Untuk api kecil, pemadaman awal bisa memakai alat pemadam api ringan (APAR) atau peralatan sederhana. Pada kebakaran tabung gas, tutup tabung dengan kain atau handuk basah dan putus aliran listrik (Espos).
  • Manfaatkan hujan singkat untuk menampung air (BPBD Boyolali, via Espos).

Tips lengkap mencegah api di ladang dan pekarangan juga tersedia di artikel tips cegah kebakaran lahan selama musim kemarau.

Apa selanjutnya?

BPBD Boyolali menyatakan akan terus menyesuaikan penyaluran air bersih dengan kondisi di lapangan hingga kekeringan berakhir. Damkar Boyolali saat ini memiliki empat pos: pos pusat di kantor Satpol PP Boyolali dengan tiga armada, serta masing-masing satu truk di Pos Wonosegoro, Pos Marhaen, dan Pos Klego, menurut Espos. Sebelumnya, BPBD juga menyiapkan sumur dalam untuk wilayah rawan kering, seperti diberitakan dalam persiapan sumur dalam di Ngaren. Warga dapat memantau prakiraan cuaca resmi BMKG untuk mengetahui perkembangan hujan di wilayahnya.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *