Hujan Diprediksi Molor, BPBD Boyolali Siapkan Sumur Dalam di Ngaren

Berita, Politik27 Views

Warga Boyolali utara masih harus bersabar menunggu hujan. Sementara pengiriman air bersih terus berjalan, pemerintah daerah mulai mencari sumber air bawah tanah agar desa langganan kekeringan tidak selalu bergantung pada truk tangki.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menyampaikan pada Minggu (27/9/2026) bahwa BPBD bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah melakukan survei geolistrik di Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi. Hasilnya menunjukkan ada potensi sumber air dalam, seperti dilaporkan TribunSolo dan Radar Solo.

Intinya

  • BMKG memperkirakan awal musim hujan baru pada pertengahan hingga akhir November 2026.
  • BPBD menyebut kondisi kering bisa berlanjut hingga awal 2027.
  • Survei geolistrik BPBD-BNPB di Ngaren menemukan potensi air dalam; kedalamannya 80–180 meter.
  • Pengiriman air bersih tetap berjalan sampai kekeringan benar-benar berakhir.

Kapan hujan diperkirakan turun?

Radar Solo melaporkan, BMKG memperkirakan awal musim hujan baru terjadi pada pertengahan hingga akhir November. Menurut Ari, Boyolali termasuk wilayah yang mengalami perlambatan musim hujan.

“Ada kemungkinan memang di awal bulan Desember (hujan), tapi juga tidak menutup kemungkinan ini nanti juga bisa memperpanjang lagi di awal tahun 2027,” kata Ari, seperti dikutip TribunSolo. Ia menambahkan, “Tapi kita berharap sekali lagi, segera turun hujan secepatnya.”

Data terbaru BPBD mencatat kekeringan telah melanda 13 kecamatan, 45 desa, dan 144 dukuh, dengan lebih dari 5,6 juta liter air bersih disalurkan. Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi masih menjadi wilayah yang cukup parah terdampak.

Mengapa Ngaren jadi prioritas?

Desa Ngaren disebut hampir setiap tahun dilanda kekeringan, sehingga warganya rutin menerima kiriman air. Menurut data BPBD yang dikutip Radar Solo, Ngaren sudah menerima 59 tangki atau kurang lebih 333 ribu liter air bersih.

Kondisi di lapangan juga berat. Radar Solo melaporkan warga Dukuh Kalitlawah, Ngaren, sampai mengais sisa genangan air di sungai yang hampir kering total. Kepala MI Al-Hidayah Kalitlawah Muhammad Mas’ud menyebut wilayahnya sudah sekitar empat bulan tidak diguyur hujan.

“Iya, untuk Desa Ngaren ini untuk dropping air untuk jangka pendek selalu kita lakukan. Ini selalu rutinitasnya kita lakukan dropping air bersih,” ujar Ari, seperti dikutip TribunSolo.

Apa itu survei geolistrik dan apa hasilnya?

Survei geolistrik adalah langkah awal untuk memetakan potensi sumber air di bawah tanah sebelum titik pengeboran ditentukan. Survei di Ngaren dilakukan bersama BNPB dan hasilnya menunjukkan potensi air dalam.

Tantangannya ada pada kedalaman. “Karena memang kedalamannya di wilayah-wilayah yang terdampak ini cukup tinggi, bervariasi antara 80, 100, bahkan ada yang sampai 180 meter,” jelas Ari kepada TribunSolo.

Saat ini BPBD masih menghitung kebutuhan anggaran. “Saat ini kami baru melakukan survei, baru melakukan survei karena ini kita berkolaborasi dengan BNPB. Kita baru melakukan penghitungan anggaran untuk pengeboran air,” katanya.

Apa artinya bagi warga?

Jika pengeboran terwujud, sumur dalam diharapkan mengurangi ketergantungan warga Ngaren pada bantuan air dari truk tangki. Selama itu belum terealisasi, BPBD memastikan pengiriman air bersih berjalan tanpa batas waktu tertentu hingga kekeringan berakhir dan musim hujan tiba, seperti dilaporkan Radar Solo.

Apa selanjutnya?

BPBD berharap pengeboran di Ngaren dapat dilakukan tahun ini. “Dan kami kemarin baru saja dari BNPB melakukan geolistrik di wilayah Ngaren, dan harapan kita nanti dalam waktu dekat kita bisa melakukan pengeboran air,” ujar Ari. Survei geolistrik juga dilakukan di sejumlah wilayah terdampak lain sebelum lokasi pengeboran ditentukan, menurut TribunSolo.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *