WhatsApp Kini Punya Kontrol Orang Tua untuk Akun Remaja

Teknologi13 Views

Boyolali.net — Minggu (4/10/2026) — WhatsApp memperluas fitur kontrol orang tua ke akun milik remaja. Lewat fitur yang diumumkan di blog resmi WhatsApp pada 30 September 2026 itu, orang tua dapat mengatur sejumlah setelan privasi anak, menerima notifikasi aktivitas grup, dan memilih pengalaman Meta AI yang dianggap sesuai. Isi percakapan dan panggilan remaja tetap tidak bisa dibuka orang tua.

Intinya

  • Orang tua bisa memilih siapa yang boleh melihat foto profil remaja dan siapa yang boleh memasukkannya ke grup.
  • Ada notifikasi saat remaja masuk atau keluar grup, atau saat grupnya bertambah besar secara berarti.
  • Untuk Meta AI, tersedia setelan bawaan 13+ dan opsi lebih ketat bernama Limited Content.
  • Remaja yang ingin melonggarkan setelan perlu persetujuan orang tua melalui PIN.
  • Pesan dan panggilan pribadi remaja tetap dilindungi enkripsi end-to-end.

Apa saja yang bisa diatur orang tua

Menurut pengumuman WhatsApp dan laporan 9to5Mac (30/9/2026), orang tua dapat memilih setelan privasi untuk remaja, misalnya siapa yang bisa melihat foto profil dan siapa yang bisa menambahkannya ke grup. Orang tua juga dapat menentukan cara remaja memakai Saluran (Channels), pembaruan Status siapa yang bisa dilihat remaja, serta siapa yang boleh melihat Status milik remaja.

Untuk aktivitas grup, orang tua akan mendapat notifikasi ketika remaja bergabung atau keluar dari grup, atau ketika grup yang diikuti remaja bertambah anggota dalam jumlah berarti. Hal ini juga diberitakan Investortrust (1/10/2026) dan Suara.com (3/10/2026). Notifikasi tersebut tidak membuka isi percakapan.

Pilihan Meta AI: 13+ atau Limited Content

WhatsApp memberi dua pilihan pengalaman Meta AI bagi remaja: setelan bawaan untuk pengguna 13 tahun ke atas, atau opsi yang lebih ketat bernama Limited Content. Menurut 9to5Mac, yang mengutip WhatsApp, opsi Limited makin membatasi topik yang bisa dibahas remaja dengan Meta AI, dan fitur Meta AI yang mengandalkan Private Processing tidak tersedia saat opsi itu aktif. Periskop (2/10/2026) melaporkan bahwa mode ini menonaktifkan obrolan penyamaran dan ringkasan pesan otomatis.

Dikunci dengan PIN, isi chat tetap privat

Setelan yang dipilih orang tua dikunci dengan satu PIN. Bila remaja ingin melonggarkan salah satu setelan, perubahan itu memerlukan persetujuan orang tua melalui PIN tersebut. Menurut Periskop, pengaturan dimulai dari menu Pengaturan di WhatsApp milik remaja, lalu akun orang tua ditautkan dan PIN pengawasan dibuat.

WhatsApp menegaskan bahwa meski kontrol aktif, pesan dan panggilan pribadi remaja tetap terlindungi enkripsi end-to-end. Orang tua tidak mendapat akses ke isi chat maupun panggilan. Dalam keterangan yang dikutip Investortrust, WhatsApp menyebut seluruh kontrol dirancang untuk mendukung percakapan terbuka antara orang tua dan remaja tentang cara memakai WhatsApp, sambil tetap melindungi pesan pribadi.

Konteks: sebelumnya ada akun kelolaan untuk anak praremaja

Fitur ini melanjutkan akun yang dikelola orang tua untuk anak praremaja, yang diumumkan WhatsApp pada 11 Maret 2026. Akun praremaja itu dibatasi untuk berkirim pesan dan menelepon, tanpa akses ke Saluran, Status, dan Meta AI. Kini, kontrol serupa diperluas ke remaja dengan pilihan yang lebih longgar, seperti dicatat 9to5Mac.

Investortrust mengaitkan peluncuran fitur ini dengan dorongan pemerintah Indonesia melalui PP TUNAS, regulasi perlindungan anak di ruang digital. Media itu juga menyebut Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid sebelumnya meminta Meta memperkuat verifikasi usia, desain produk, dan perlindungan anak.

Informasi penting untuk masyarakat

  • Kontrol orang tua bersifat opsional dan bisa diubah kapan saja, menurut WhatsApp.
  • Sumber yang dibaca belum menyebut jadwal pasti kapan fitur ini tersedia untuk semua pengguna di Indonesia.
  • Kontrol ini tidak memberi akses ke isi pesan atau panggilan remaja.

Apa selanjutnya?

WhatsApp menyebut kontrol ini baru permulaan dan fitur berikutnya dirancang berdasarkan masukan keluarga. Suara.com melaporkan peluncurannya dilakukan bertahap sesuai masukan tersebut.

Selain mengatur akun anak, keluarga juga perlu mewaspadai modus penipuan lewat pesan; baca cara menghindari penipuan OTP dan APK. Simak pula imbauan Komdigi soal jual beli data pribadi serta aturan baru Google soal pemasangan APK di Android.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *