BOYOLALI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan tengah diuji coba di SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali, dan hasilnya disambut antusias oleh para siswa. Sejak beralih dari penyajian dalam wadah ompreng ke sistem prasmanan, para siswa mengaku lebih bersemangat makan karena sajian tetap hangat dan bisa langsung disantap.
Sekolah tersebut menjadi lokasi percontohan penerapan MBG sistem prasmanan di Kabupaten Boyolali melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Siswodipuran 3. Penanggung jawab MBG di sekolah, Nana Riyana, menyebut penyajian prasmanan membuat makanan dapat dinikmati dalam kondisi hangat dan segar, sehingga selera makan siswa meningkat. Makanan pun disebut lebih banyak dihabiskan, bahkan beberapa siswa meminta tambahan porsi.
Uji coba sistem prasmanan ini digagas Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai alternatif pola penyajian MBG. Menurut Wakil Ketua BGN, Sudaryono, model prasmanan terinspirasi dari praktik di Jepang. Salah satu keunggulannya adalah makanan bisa langsung dikonsumsi setelah disajikan di kelas, sehingga jeda waktu antara makanan selesai dimasak hingga disantap siswa menjadi jauh lebih pendek.
Baca juga:
- TMMD Sengkuyung Tahap IV Resmi Dibuka di Wates Simo, TNI-Pemkab Boyolali Perkuat Pembangunan Desa
- Soto Seger Mbok Giyem, Soto Legendaris Sejak 1950 yang Jadi Ikon Kuliner Boyolali
“Kami harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” ujar Sudaryono dalam keterangannya.
Selain menjaga kualitas makanan, sistem prasmanan juga dinilai mampu menekan jumlah makanan yang terbuang (food waste). Dalam model ini siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan, dan makanan yang masih tersisa dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat lainnya. Laporan sementara yang diterima BGN menunjukkan tingkat makanan yang habis dalam uji coba tersebut cukup baik.
Tak hanya soal gizi, model prasmanan juga membawa fungsi edukasi. BGN melibatkan pihak sekolah dan dapur SPPG dalam pelatihan agar penyajian berlangsung sesuai prosedur, sementara siswa yang mendapat giliran piket membantu melayani teman-teman dan guru ketika waktu makan tiba.
Di SMP Muhammadiyah 1 PK Boyolali sendiri, pelaksanaan uji coba dilakukan bertahap dengan mengatur jadwal makan per kelas agar antrean pengambilan makanan tetap tertib. Menu yang disajikan tetap mengikuti standar gizi BGN yang terdiri atas nasi, lauk hewani, sayur, dan buah. MBG sendiri merupakan program nasional yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi pelajar sekaligus mengurangi beban pengeluaran harian orang tua siswa.
Meski mendapat sambutan baik, pengaturan waktu dan alur pengambilan makanan tetap diperlukan agar seluruh siswa dapat makan dengan nyaman.
Sumber: Solopos/Espos.id, Tribunnews, Badan Gizi Nasional.






