Kriya Logam Tumang Cepogo Boyolali, Warisan Budaya Takbenda yang Mendunia dari Kaki Merapi

UMKM26 Views

BOYOLALI – Di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, terdapat kawasan yang dijuluki “desa tembaga”. Hampir setiap rumah di sana menjadi bengkel kecil tempat para pengrajin menempa, mengukir, dan mematri logam tembaga serta kuningan secara turun-temurun.

Keahlian ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan budaya yang terjaga ratusan tahun. Pada 2021, Kriya Logam Tumang Boyolali ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Pemerintah, menegaskan statusnya sebagai salah satu pusat kerajinan logam terkemuka di Indonesia.

Akar sejarah kriya logam Tumang diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-16. Menurut cerita daerah yang berkembang di masyarakat, keberadaan sentra tembaga ini tidak lepas dari sosok Pangeran Rogosasi, putra Raja Mataram Kuno. Pangeran Rogosasi yang diasingkan ke lereng Gunung Merapi dirawat oleh Kyai Wonosegoro hingga dewasa, kemudian membangun wilayah yang diberi nama Desa Tumang. Ia dibantu empat abdi dalem keraton yang menjadi “guru” bagi warga desa: ada yang pandai membuat keris beserta kerangkanya, ahli membuat pakaian dari bahan perak, ahli menjahit, dan ahli membuat peralatan dapur dari bahan tembaga. Keempat keahlian tersebut masih lestari di Tumang hingga kini.

Baca juga:

Versi lain dari sejarah desa tembaga ini tercatat pada sekitar 1930 M, masa pemerintahan Paku Buwono X. Kala itu, raja yang tengah mencari pusaka keraton yang hilang (murca) menyaksikan warga Tumang — khususnya di Dukuh Gunungsari — bekerja membuat dan memperbaiki alat dapur berbahan tembaga. Raja kemudian memberikan nasihat dan pesan kepada warga Tumang: “Wis terusno, besuk bakal dadi dalan rejekimu” (Teruskan, kelak akan menjadi jalan rezekimu). Titah itu dijalankan warga secara turun-temurun hingga sekarang.

Dulu produk kerajinan Tumang berkisar pada peralatan dapur dan rumah tangga, seperti wajan, panci, dan kuali. Seiring persaingan dengan peralatan berbahan baku lebih murah, para pengrajin berinovasi memproduksi kerajinan dalam bentuk lain: karya dekoratif, hiasan dinding, kaligrafi, lampu gantung dan lampu Robyong, replika pintu Nabawi, mihrab masjid, kubah masjid, bak mandi, hingga logo tembaga custom tiga dimensi untuk hotel, kantor, dan organisasi internasional. Sebagian besar produk berkualitas tinggi ini ditujukan untuk pasar ekspor.

Menariknya, Desa Tumang bukanlah tempat asal bahan tembaga. Desa ini adalah sentra pengolahan yang bahan bakunya dipasok dari berbagai daerah penghasil tembaga di Indonesia, seperti Papua, Wonogiri (Tirtamoyo), Cikotok di Jawa Barat, Sangkaropi di Sulawesi Selatan, Silungkang di Sumatera Barat, Sanaman Mantikei di Kalimantan Tengah, hingga Sulawesi Utara.

Kini, Desa Tumang telah menjadi salah satu ikon pariwisata Kabupaten Boyolali. Setiap tahun, kawasan ini dikunjungi ribuan wisatawan dari berbagai daerah, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses penempaan tembaga oleh para kriyawan sekaligus membeli produk kerajinan di galeri-galeri yang berderet di sepanjang kawasan sentra.

Sumber: Wikipedia “Kriya Logam Tumang Boyolali”; gotripina.com; iwantembaga.com; medialogam.com; bleecopper.com; jatengtravelguide.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *