Jejak Trem Kuda Solo–Boyolali, Jalur Kereta yang Ditutup sejak 1973

Sejarah15 Views

Boyolali.net — Sabtu (3/10/2026) — Warga Boyolali kini terbiasa ke Solo lewat jalan raya atau tol. Namun, lebih dari seabad lalu, kota susu ini pernah terhubung dengan Solo lewat rel, lengkap dengan stasiun di tengah kota.

Jalur itu dibangun Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM), perusahaan trem swasta pada masa Hindia Belanda. Menurut Espos.id, trem kuda SoTM mulai melayani jalur Purwosari–Boyolali pada Mei 1892, dengan panjang lintas sekitar 27 kilometer.

Intinya

  • Trem kuda SoTM mulai melayani jalur Purwosari–Boyolali pada Mei 1892 (Espos.id).
  • Lokomotif uap menggantikan tenaga kuda; modernisasi diumumkan selesai 1 Mei 1908.
  • SoTM diakuisisi NIS pada 1 Januari 1911.
  • Jalur ditutup sebagai jalur kereta umum pada 1 Agustus 1973; jejak Stasiun Boyolali kini hampir tak terlihat.

Bagaimana trem kuda itu beroperasi?

Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Waskito Widi Wardoyo, seperti dikutip Espos.id, menjelaskan jalur dari Stasiun Purwosari ke Stasiun Boyolali melewati Stasiun Kartasura. Gerbongnya melintas di rel selebar 1.067 milimeter dan beratap sejenis terpal.

“Setiap gerbong ditarik oleh dua ekor kuda dan setiap berangkat hanya bisa menarik satu gerbong,” kata Waskito seperti dikutip Espos.id. Merdeka.com menuliskan jumlah yang berbeda, yakni empat ekor kuda per trem. Kedua media sepakat trem berkapasitas sekitar 20 penumpang dan kudanya harus diganti setiap empat kilometer.

Menurut Espos.id, penumpangnya kebanyakan kaum priyayi dan juragan perkebunan di Boyolali.

Kapan kuda diganti lokomotif uap?

Memasuki 1905, SoTM terpuruk karena banyak kuda penarik yang mati. Perusahaan itu lalu bekerja sama dengan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk mendatangkan lokomotif uap. Modernisasi armada diumumkan selesai pada 1 Mei 1908, tetapi SoTM justru makin terpuruk hingga resmi diakuisisi NIS pada 1 Januari 1911.

Di bawah NIS, jalur ini diperkuat untuk angkutan Pabrik Gula Colomadu, Gembongan, Cokrotulung, dan Bangak, selain tetap melayani penumpang. Mengutip buku Waskito, Espos.id menyebut trase di petak Mojosongo–Boyolali kemudian dibuat memutar lewat Siswodipuran, tempat stasiun NIS dibangun.

Ensiklopedia Wikipedia mencatat jalur ini dahulu melewati sejumlah stasiun dan halte, antara lain Kartasura, Banyudono, Pengging, Teras, dan Mojosongo, sebelum berakhir di Boyolali dan Boyolali Pasar.

Mengapa jalur ini berhenti?

Menurut Espos.id dan Merdeka.com, Perusahaan Jawatan Kereta Api menutup jalur ini sebagai jalur kereta umum pada 1 Agustus 1973. Layanan lori tebu masih berjalan hingga 1980-an, lalu berakhir setelah kontrak pengangkutan dengan Pabrik Gula Colomadu diputus.

Espos.id juga mencatat, menurut buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia, segmen Purwosari–Boyolali sempat dibongkar pekerja romusha pada masa Jepang (1943) dan kemungkinan dibangun kembali.

Di mana bekas Stasiun Boyolali sekarang?

Espos.id menyebut Stasiun Boyolali SoTM yang pertama diperkirakan berada di depan Pasar Boyolali, dekat Tugu Susu Tumpah. Adapun Stasiun Boyolali NIS diyakini terletak setelah Kantor Kelurahan Siswodipuran hingga depan Panti Marhaen, tempat kini terdapat penanda aset milik PT KAI.

Merdeka.com menulis bangunan Stasiun Boyolali sudah tidak tersisa, sedangkan bekas Stasiun Kartasura beralih fungsi menjadi warung sate. Jejak jalur lama, menurut Espos.id, masih bisa dilihat di perempatan Kartasura.

Apa selanjutnya?

Sumber-sumber di atas tidak menyebut rencana menghidupkan kembali jalur ini. Bagi warga yang tertarik menelusuri sejarah kota, kegiatan seperti walking tour Jejak Singa dan koleksi Museum Hamong Wardoyo bisa menjadi pintu masuk.

Kisah lain tentang masa lalu Boyolali dapat dibaca dalam ulasan asal-usul nama Boyolali serta bangunan peninggalan Belanda Lodji Papak di Juwangi.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *