Boyolali.net — Di lereng timur Gunung Merapi, sekitar 15–16 kilometer dari pusat Kota Boyolali, suara palu beradu dengan lempeng logam menjadi bagian keseharian warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo. Dukuh ini dikenal sebagai sentra kerajinan tembaga dan kuningan yang produknya dipasarkan di dalam maupun luar negeri.
Intinya
- Lokasi: Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali.
- Tradisi logam dikaitkan dengan Ki Ageng Rogosasi dan Empu Supandriya dari masa Mataram Islam.
- Sekitar 2.000 warga Desa Cepogo bergelut di kerajinan logam menurut Espos dan GNFI.
- Produk: lampu gantung, hiasan dinding, kaligrafi, perabot rumah, hingga kubah masjid.
Asal-usul: dari pelarian pangeran hingga empu pembuat keris
NU Online (2013) dan Espos (2023) sama-sama mengaitkan sejarah Tumang dengan Ki Ageng Rogosasi, putra Amangkurat I dari Kerajaan Mataram Islam. Ia disebut datang bersama Empu Supandriya, ahli logam keraton yang semula membuat senjata. Dari empu inilah keterampilan mengolah logam diturunkan kepada warga.
Kajian Universitas Diponegoro yang terbit di jurnal Edukasi IPS (2026) menyebut tradisi ini berawal dari kisah pengasingan pangeran tersebut di kaki Merapi, dengan Mpu Supandrio dan Mpu Yadhi sebagai pewaris keahlian. Ejaan nama tokoh berbeda di tiap sumber: Rogosasi atau Rogosari, Supandriya, Supandrio, atau Supondriyo.
Soal masa, sumber juga tidak seragam. Good News From Indonesia (GNFI) menyebut abad ke-16, sedangkan Espos mencantumkan kurun 1619–1677 yang terkait masa Amangkurat I. Makam Ki Ageng Rogosasi berada di kompleks perbukitan di Tumang, sebagaimana dilaporkan NU Online.
Adapun nama Tumang, menurut cerita warga yang dihimpun Espos, berkaitan dengan “kemamang”, makhluk dalam cerita rakyat yang dipercaya muncul dari nyala api, serta “patumangan” atau tempat pembakaran jenazah.
Pasang surut: dari alat dapur ke lampu hotel
Espos mencatat, pada awalnya warga Tumang menekuni tiga kerajinan: sayangan atau alat rumah tangga dari logam, batik, dan perhiasan emas. Pada 1980-an, kerajinan alat dapur terpukul oleh produk aluminium buatan pabrik. GNFI juga mencatat kemerosotan pada periode itu, yang kemudian dijawab perajin dengan inovasi produk bernilai seni.
Perajin lalu beralih ke perlengkapan pernikahan, kaligrafi, dan benda hias. Menurut Espos, pembeli dari Bali dan Jakarta mulai membuka jalan ke pasar ekspor pada awal 2000-an. Produk yang kini dibuat meliputi vas hias, lampu hotel, tempat sabun berlapis tembaga, bak mandi, teko, pintu, hingga kubah masjid.
Skala usahanya besar untuk ukuran satu desa. Kepala Desa Cepogo, Mawardi, kepada Espos menyebut separuh warga bekerja di sektor kerajinan logam, dengan sekitar 2.000 orang di antaranya perajin murni. GNFI mencatat angka serupa: sekitar 2.000 dari 3.000 kepala keluarga di Desa Cepogo berkecimpung di kerajinan logam per akhir 2021.
Dibuat dengan tangan, diakui sebagai warisan budaya
Bahan utamanya tembaga dan kuningan. Laman Visit Jawa Tengah milik Pemprov Jateng menguraikan proses pembuatannya: membuat sketsa, membentuk dasar, mengukir atau menatah, membentuk, lalu finishing. Pembeli bisa memilih barang yang sudah jadi atau memesan sesuai desain. Kini perajin tidak hanya ada di Dukuh Tumang, tetapi tersebar di dukuh-dukuh lain di Desa Cepogo.
Seni kriya logam Tumang juga telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (WBTb), sebagaimana dicatat GNFI dan pemberitaan RMOL tentang program Kementerian Perindustrian di sentra ini.
Kisah orang-orang di balik kerajinan ini pernah diangkat Boyolali.net, antara lain lewat profil Sukamti, pemahat tembaga yang sudah 41 tahun bekerja.
Tantangan: regenerasi, mesin, dan pasar
Kajian di jurnal Edukasi IPS mencatat sejumlah tantangan, yakni regenerasi perajin terampil, kapasitas produksi yang terbatas, dan standar mutu yang belum seragam. Saat pandemi Covid-19, perajin merespons dengan pemasaran digital dan diversifikasi produk.
Dari sisi produksi, RMOL memberitakan Kementerian Perindustrian mendorong otomatisasi lewat mesin pembuat tekstur lempeng tembaga, karena proses manual dinilai menurunkan efisiensi. Pendampingan juga datang dari kampus, seperti program UNS untuk perajin Cepogo yang mencakup revitalisasi mesin hingga pembukuan.
Informasi penting untuk masyarakat
- Sentra berada di Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, di jalur dari Kota Boyolali menuju Selo.
- Visit Jawa Tengah menyebut barang bisa dibeli langsung atau dipesan khusus sesuai desain.
- Harga bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan; tanyakan langsung kepada perajin sebelum memesan.
Apa selanjutnya?
Kunjungan ke Tumang bisa dipadukan dengan mengenal sisi lain Cepogo, misalnya Gunung Bibi, bukit purba di lereng timur laut Merapi, atau menyimak tradisi Sadranan Cepogo yang digelar warga menjelang Ramadan.
Sumber
- Espos – Cerita Tumang, Surga Kerajinan Logam di Boyolali Diambil dari Nama Hantu (25/2/2022)
- Espos – Jatuh Bangun Ribuan Perajin di Tumang Boyolali, Tembus Ekspor sejak 1980-an (10/1/2023)
- Good News From Indonesia – Logam Tumang, Kerajinan Warisan Boyolali yang Terjaga selama Berabad-abad (25/11/2022)
- NU Online – Menelusuri Jejak Ki Ageng Rogosasi Tumang (3/11/2013)
- Visit Jawa Tengah (Pemprov Jateng) – Desa Wisata Cepogo Boyolali, Sentra Kerajinan Tembaga dan Kuningan Kualitas Ekspor (19/9/2023)
- RMOL – Kemenperin Dorong Perluasan Pasar Industri Kerajinan Logam Tumang (1/7/2024)
- Jurnal Edukasi IPS – Warisan Industri Logam Tumang: dari Pengasingan Pangeran Rogosari hingga Menjadi Pusat Kerajinan Nasional (2026)






