Sadranan Cepogo, Tradisi Bersih Makam dan Tukar Tenong Jelang Ramadan

Sejarah16 Views

Boyolali.net — Menjelang Ramadan, suasana di desa-desa Kecamatan Cepogo, Boyolali, berubah mirip Lebaran. Warga berbondong-bondong ke makam leluhur sambil menenteng tenong berisi makanan, berdoa bersama, lalu membuka pintu rumah bagi kerabat dan tamu dari luar desa. Tradisi ini dikenal sebagai sadranan.

Intinya

  • Sadranan atau nyadran adalah tradisi ziarah dan doa bagi leluhur yang digelar pada bulan Ruwah (Syakban), menjelang Ramadan.
  • Rangkaiannya: bersih makam, doa dan tahlil bersama, makan bersama, lalu saling bertukar isi tenong.
  • Setelah dari makam, warga membuka rumah dan menjamu tamu, sehingga suasananya disebut mirip Lebaran.
  • Selain Cepogo, sadranan juga digelar desa-desa lain di lereng Merapi-Merbabu secara bergiliran.

Apa itu sadranan?

Sadranan adalah tradisi masyarakat Jawa mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan mereka. Laman pariwisata resmi Pemprov Jawa Tengah, Visit Jawa Tengah, menyebut Sadranan Cepogo sebagai warisan budaya leluhur yang digelar menjelang Ramadan. Warga berziarah sambil membawa tenong, berdoa bersama, lalu makan bersama sebagai simbol syukur dan kebersamaan.

Penelitian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (2021) tentang literasi budaya sadranan menyebut tradisi ini rutin digelar masyarakat Kecamatan Cepogo setiap bulan Syakban atau Ruwah dalam kalender Jawa. Penelitian itu juga mencatat masih minimnya bahan bacaan sehingga belum semua warga, terutama generasi muda, memahami makna tradisi tersebut.

Soal rentang waktunya, sumber berbeda. NU Online (2013) menulis sadranan di Cepogo berlangsung sejak 15 Ruwah hingga 1 Pasa (Ramadan), sedangkan Visit Jawa Tengah menyebut umumnya pada 10 hingga 21 Syakban. Setiap desa punya hari sendiri.

Dari bersih makam hingga tukar tenong

NU Online menggambarkan sadranan di Desa Sukobumi, Cepogo, pada 2013. Sejak pukul 05.00 warga membersihkan makam dengan sapu dan sabit: mencabut rumput, memangkas ilalang, dan membersihkan lumut. Sekitar pukul 08.00 mereka pulang, lalu kembali membawa tenong, wadah makanan bulat dari anyaman bambu. Saat itu tercatat 700 sampai 800 tenong ditata di area makam. Usai pengajian dan doa, isi tenong dibagikan dan ditukar di antara warga yang hadir.

CNN Indonesia pada Mei 2016 melaporkan sadranan di desa yang sama diikuti 1.500 hingga 2.000 warga, dengan sekitar 900 tenong, bertambah 200 dari tahun sebelumnya. Menurut CNN Indonesia, acara dipimpin tokoh agama setempat, Kiai Haji Muhammad Suparno, yang juga dikutip NU Online. Asal-usul tradisi di desa itu dikaitkan dengan tokoh penyebar Islam: CNN Indonesia menyebut Kiai Haji Ibrahim, murid Walisongo, sedangkan NU Online menyebut Kiai Bonggol Jati atau Syah Ibrahim.

Suasana seperti Lebaran

Yang membuat sadranan di lereng Merapi khas adalah silaturahminya. The Jakarta Post (2018) menggambarkan Boyolali menjadi lebih ramai saat musim sadranan: warga mengenakan pakaian terbaik dan menyiapkan makanan untuk tetangga serta kerabat, mirip perayaan Idulfitri. Seorang warga Desa Samiran, Selo, bernama Widodo mengatakan hampir semua desa di lereng Merapi dan Merbabu menggelar sadranan secara bergiliran, sehingga hari pelaksanaannya diatur berbeda-beda.

Sejak 2019, Cepogo juga punya Grebeg Sadranan. Menurut detikcom, kirab pertama pada April 2019 diikuti 15 desa di Kecamatan Cepogo dengan 315 tenong, tumpeng, serta gunungan hasil bumi dan makanan khas. Wakil Bupati Boyolali saat itu, M. Said Hidayat, berharap acara tersebut menjadi agenda tahunan untuk mengembangkan wisata dan melestarikan budaya.

Bukan hanya di bulan Ruwah

Di sebagian desa, sadranan digelar dua kali setahun. detikJateng pada September 2025 memotret sadranan bulan Mulud di makam Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk. Ratusan warga RW 04 dan RW 05 membawa tenong dan rinjing, membaca tahlil dan Surat Yasin, lalu makan bersama. Sehari sebelumnya, warga menggelar bubak atau bersih makam. Tokoh setempat menyebut tradisi itu digelar saat Mulud dan Ruwah. Desa yang sama juga dikenal dengan tradisi bakdo sapi setiap Syawalan.

Informasi penting untuk masyarakat

  • Sadranan Cepogo digelar menjelang Ramadan, umumnya pada bulan Ruwah/Syakban; tanggal tiap desa berbeda.
  • Jadwal sadranan dan Grebeg Sadranan berikutnya belum diumumkan; pantau informasi resmi desa, kecamatan, atau Pemkab Boyolali.
  • Pengunjung dari luar desa sebaiknya menghormati suasana doa di makam dan mengikuti arahan panitia atau tokoh setempat.
  • Saat musim sadranan, jalan menuju desa di lereng Merapi bisa lebih ramai dari biasanya.

Apa selanjutnya?

Sadranan menjadi salah satu dari sejumlah tradisi warga lereng gunung di Boyolali, berdampingan dengan Udan Dawet di Banyuanyar. Bagi yang ingin menjelajah Cepogo di luar musim sadranan, ada Gunung Bibi di lereng timur laut Merapi serta Candi Lawang dan Candi Sari peninggalan Mataram Kuno.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *