Udan Dawet di Banyuanyar, Tradisi Warga Lereng Merbabu Memohon Hujan

Wisata28 Views

Kemarau panjang membuat warga di lereng Merbabu mulai merasakan susahnya air bersih. Di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, harapan agar hujan segera turun diwujudkan lewat tradisi yang sudah diwariskan turun-temurun.

Warga Banyuanyar menggelar tradisi Udan Dawet di Sendang Punden Mandirejo pada Jumat (18/9/2026) sebelum salat Jumat. Menurut Espos dan TribunSolo.com, warga membawa tenongan berisi makanan serta gunungan berisi bungkus-bungkus dawet, lalu melempar dawet ke dalam sendang sebagai simbol permohonan hujan.

Intinya

  • Tradisi Udan Dawet digelar Jumat (18/9/2026) di Sendang Punden Mandirejo, Desa Banyuanyar, Ampel.
  • Warga membawa tenongan berisi hasil bumi dan jajanan, serta gunungan dawet.
  • Puncaknya, warga melempar dawet bersama-sama ke sendang sebagai doa agar hujan turun.
  • Tradisi digelar tiap tahun pada mangsa kapat (keempat) dalam penanggalan Jawa, saat puncak kemarau.

Bagaimana jalannya tradisi Udan Dawet?

Persiapan dimulai jauh sebelum matahari terbit. TribunSolo.com melaporkan warga mulai menyiapkan makanan sejak sekitar pukul 03.00 WIB. Nasi, ingkung, sayuran, hingga jajanan pasar ditata ke dalam tenongan.

Menurut Espos, kirab dimulai dari perempatan dukuh setempat menuju Sendang Mandirejo, tempat yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Banyuanyar. Setibanya di sendang, makanan didoakan bersama oleh sesepuh desa, lalu warga berzikir dan makan bersama.

Sebagian dawet dilemparkan ke sendang, sebagian lagi diminum di lokasi. Gunungan dawet yang telah didoakan kemudian diperebutkan warga, seperti dilaporkan Espos.

Apa makna dawet dalam tradisi ini?

Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menjelaskan nama tradisi ini berasal dari kata udan yang berarti hujan dan dawet, minuman tradisional dari cendol, santan, dan gula Jawa. Dawet yang dituangkan ke sendang menjadi simbol harapan agar hujan segera turun.

Kepada TribunSolo.com, Komarudin menyebut unsur dawet melambangkan kenikmatan dan kemakmuran. “Hujan sing apik, ora hujan sing marakke sengsara (hujan yang baik, bukan hujan yang mendatangkan kesengsaraan),” katanya, seperti dikutip TribunSolo.com.

Ia juga menyebut tradisi ini sebagai bagian dari bersih desa sekaligus wujud kekompakan warga. Menurut Espos, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Mengapa tahun ini terasa lebih penting?

Kemarau membuat pasokan air warga menipis. Komarudin kepada Espos mengatakan air dari sumur masyarakat mulai berkurang. Warga lain, Siti Aminah, kepada TribunSolo.com menyebut pasokan air PAM berkurang sehingga warga sampai harus membeli air.

Warga berharap hujan yang turun nanti bisa kembali memberi manfaat bagi pertanian dan peternakan di Banyuanyar.

Adakah nilai sejarah di Sendang Mandirejo?

Pegiat budaya Kusworo Rahadyan kepada Espos mengatakan Sendang Mandirejo diyakini sebagai situs cikal bakal Desa Banyuanyar, sesuai namanya, banyu yang anyar atau air yang baru. Di lokasi itu, katanya, juga ditemukan situs petirtaan dari zaman Mataram Hindu.

Bagi pemuda setempat, tradisi ini juga menjadi ajang pelestarian budaya. Bella, salah satu pemudi Banyuanyar, mengaku selalu ikut setiap tahun. “Sangat luar biasa karena ini bentuk pelestarian budaya,” tuturnya, seperti dikutip TribunSolo.com.

Apa selanjutnya?

Udan Dawet digelar setahun sekali pada mangsa kapat. Belum ada jadwal resmi untuk tahun depan dari pemerintah desa. Warga Boyolali yang tertarik pada wisata budaya bisa memantau kabar dari Desa Banyuanyar menjelang musim kemarau berikutnya.

Pengunjung yang datang ke tradisi semacam ini sebaiknya menghormati jalannya prosesi dan mengikuti arahan panitia atau sesepuh desa setempat.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *