Bagi pelancong yang melintasi jalur Solo–Selo–Borobudur, ada satu titik yang enak untuk berhenti sejenak. Selain udara sejuk dan pemandangan dua gunung, tempat ini menyimpan cerita perjuangan melawan penjajah Belanda.
Simpang PB VI Selo berada di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Menurut TribunSolo.com (10/9/2026), kawasan publik ini berjarak sekitar 46 kilometer dari pusat Kota Solo atau sekitar 1,5 jam berkendara, dan berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl.
Intinya
- Simpang PB VI berada di jalur Solo–Selo–Borobudur (SSB), Kecamatan Selo, sekitar 1.500 mdpl.
- Ikonnya patung Sri Susuhunan Pakubuwono VI setinggi sekitar 3,5 meter, menurut TribunSolo.com.
- Di utara simpang terdapat Goa Raja, lokasi pertemuan PB VI dan Pangeran Diponegoro menurut pegiat sejarah.
- Fasilitas di sekitar: masjid, pasar, ATM, minimarket, warung, dan Kampung Homestay Selo sekitar 150 meter.
Apa daya tarik Simpang PB VI?
Daya tarik utamanya adalah panorama Merapi dan Merbabu yang mengapit kawasan Selo. Saat cuaca cerah, kedua gunung menjadi latar yang menarik untuk berfoto. Hamparan rumput di area alun-alun dan pepohonan di sekitarnya menambah suasana khas dataran tinggi, menurut TribunSolo.com.
Ikon kawasan ini adalah patung PB VI yang digambarkan mengenakan beskap, blangkon, dan kain jarik. Laman Visit Jawa Tengah milik Pemprov Jateng menyebut patung ini sebagai ikon baru kawasan wisata Selo.
Kontur Selo yang memadukan area datar dan tanjakan juga cocok untuk joging, bersepeda, hingga soft tracking atau jalan santai di jalur alam.
Apa kisah sejarah di balik patung PB VI?
PB VI dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan melawan penjajah Belanda yang pernah bergerilya bersama Pangeran Diponegoro. Pegiat sejarah Boyolali, R Surojo, kepada detikcom pada 2021 mengatakan PB VI dulu sering ke Selo untuk bertemu Diponegoro guna menyusun strategi, termasuk menyuplai senjata dan logistik.
Titik pertemuan itu disebut berada di Goa Raja, di sebelah utara lapangan Selo yang kini menjadi Simpang PB VI. Menurut detikcom, patung dipasang atas kesepakatan Pemkab Boyolali dan Keraton Surakarta karena simpang dibangun di atas tanah Keraton, yang meminta ada identitas PB VI di sana.
Saat pembangunan pada 2021, Kepala DLH Boyolali kala itu, Lusia Dyah Suciati, menyebut anggaran Rp647,4 juta untuk patung, taman, air mancur, dan panggung hiburan, seperti dilaporkan detikcom.
Apa saja fasilitas di sekitarnya?
TribunSolo.com mencatat fasilitas pendukung tak jauh dari simpang, mulai dari masjid, pasar, ATM, hingga minimarket. Warung makan dapat dijumpai dari pagi hingga malam, dan ada pilihan penginapan, termasuk Kampung Homestay Selo.
Simpang PB VI juga bisa menjadi titik singgah sebelum menuju destinasi lain di Selo, seperti Bukit Gancik, Bukit Sanjaya, Embung Manajar, Kampung Basecamp Dusun Genting, Merapi Garden, dan Desa Wisata Samiran.
Apa selanjutnya?
Datang pagi hari memberi peluang lebih besar melihat Merapi dan Merbabu tanpa tertutup kabut. Siapkan jaket karena udara Selo lebih dingin dibandingkan perkotaan.
Pengunjung perlu ingat bahwa jalur pendakian Gunung Merapi masih ditutup. Espos (18/9/2026) melaporkan Balai TNGM mencatat sekitar 26 pendaki ilegal sepanjang 2026, dan mayoritas pelanggaran terjadi di jalur Selo. Menikmati panorama dari Simpang PB VI tetap bisa dilakukan tanpa mendaki. Informasi fasilitas di atas bersumber dari TribunSolo.com per September 2026.
Sumber
- TribunSolo.com – Rekomendasi Wisata di Boyolali: Syahdunya Menikmati Panorama Merapi-Merbabu di Simpang PB VI Selo (10/9/2026)
- detikcom – Patung Paku Buwono VI Dibangun di Simpang Selo Boyolali (10/9/2021)
- Visit Jawa Tengah (Disbudparekraf Jateng) – Simpang Pakubuwono VI Selo
- Espos – TNGM Catat 36 Pendaki Ilegal Gunung Merapi Lahir pada 2006-2008 (18/9/2026)






