Gunung Nganten di Lencoh Selo, Camping Tanpa Trekking Berlatar Merapi

Wisata25 Views

Berkemah di lereng gunung sering identik dengan mendaki berjam-jam sambil memanggul ransel. Di Kecamatan Selo, ada pilihan yang lebih ringan untuk keluarga: tenda bisa didirikan tak jauh dari tepi jalan, dengan Merapi dan Merbabu sebagai latar.

Tempat itu adalah Wisata Gunung Nganten di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. TribunSolo.com dalam ulasannya pada Selasa (22/9/2026) menyebut destinasi ini memadukan panorama alam, taman, area permainan, dan camping ground. Laman Visit Jawa Tengah milik Pemprov Jateng juga mencatat Gunung Nganten sebagai destinasi di Desa Lencoh dengan latar Gunung Merapi.

Intinya

  • Gunung Nganten berada di Jl. Magelang–Boyolali KM 22, Dusun I, Desa Lencoh, Selo, sekitar 49 km dari pusat Kota Solo.
  • Area camping bisa dicapai tanpa trekking; sewa tenda Rp50.000 per malam, ditambah Rp10.000 per orang yang berkemah.
  • Tidak ada tiket masuk; pengunjung membayar parkir Rp5.000, menurut TribunSolo.com yang mengutip laman Disporapar Boyolali.
  • Nama Lencoh berasal dari istilah “selencoh” dalam cerita sejarah desa tentang anggota keluarga yang tak lagi sependapat.

Apa yang bisa dinikmati di Gunung Nganten?

Daya tarik utamanya adalah panorama dua gunung. Saat cuaca cerah, pengunjung dapat menyaksikan Merapi dan Merbabu sekaligus dari kawasan wisata, dengan sekitar yang masih didominasi area hijau dan sawah warga. Pada pagi hari, pengunjung juga bisa melihat aktivitas warga yang berangkat ke ladang, tulis TribunSolo.com.

Tersedia sejumlah spot foto yang bisa dipakai gratis, salah satunya ikon bertuliskan nama wisata dengan latar Merapi. Lokasinya di tepi jalan raya membuat Gunung Nganten mudah ditemukan dan kerap menjadi tempat singgah bagi pelancong menuju kawasan Selo, termasuk pesepeda.

Berapa biaya berkemah dan apa fasilitasnya?

Menurut TribunSolo.com, sewa tenda dipatok Rp50.000 per malam, ditambah biaya Rp10.000 per orang yang berkemah. Penyewaan tenda bisa dilakukan mulai pukul 17.00 hingga 09.00 WIB. Api unggun dan makanan dapat disiapkan dengan koordinasi terlebih dahulu dengan pengelola.

Untuk masuk kawasan, pengunjung tidak dikenai tiket. TribunSolo.com mengutip informasi wisata.disporapar.boyolali.go.id bahwa pengunjung cukup membayar parkir Rp5.000. Fasilitas pendukung meliputi musala, kamar mandi, dan warung makan.

Karena tidak perlu berjalan jauh, lokasi ini dinilai cocok bagi keluarga yang ingin mencoba berkemah dengan cara yang lebih praktis. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain menikmati kopi, barbeku, atau sekadar bersantai.

Dari mana nama Desa Lencoh berasal?

Dalam artikel terpisah, TribunSolo.com menuturkan kisah asal-usul Desa Lencoh berdasarkan keterangan Bapak Kawit, pensiunan guru SD kelahiran 1929 dari Dukuh Lencoh. Dahulu ada kakak beradik, Mbah Kyai Irogati dan Mbah Sangkep, yang ikut memimpin warga membuat jalan kecil penghubung antardukuh.

Setelah Mbah Kyai Irogati wafat, muncul ketidakcocokan antara istrinya dan Mbah Sangkep. Keadaan tak sependapat itu disebut “selencoh”, yang kemudian menjadi nama dukuh dan akhirnya nama desa. Pada masa Kasunanan Surakarta, Lencoh sempat menjadi pusat kademangan sebelum berubah menjadi desa setelah kemerdekaan.

Lencoh juga dikenal sebagai desa yang mempertahankan tradisi Sedekah Gunung Merapi setiap malam 1 Sura, ketika warga membawa kepala kerbau menuju puncak Merapi.

Apa selanjutnya?

Waktu terbaik untuk menikmati panorama adalah saat cuaca cerah. Udara Selo pada malam hari cukup dingin, sehingga pengunjung yang berkemah perlu membawa pakaian hangat. Tarif di atas bersumber dari TribunSolo.com per 22 September 2026 dan bisa berubah, jadi sebaiknya konfirmasi lebih dulu kepada pengelola.

Menikmati panorama Merapi dari Gunung Nganten tidak sama dengan mendaki Merapi. Pengunjung diimbau tetap mengikuti informasi resmi soal kawasan rawan bencana di lereng gunung.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *