Kopi Lereng Merapi-Merbabu Boyolali, Komoditas Unggulan yang Kian Menggeliat di Tangan Petani Selo

Bisnis, UMKM74 Views

BOYOLALI — Boyolali selama ini dikenal sebagai kota penghasil susu. Namun, belakangan komoditas lain dari Bumi Sambi mulai mencuri perhatian: kopi arabika dari lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang kian menggeliat di tangan para petani Kecamatan Selo.

Dikenal sebagai kota penghasil susu, Boyolali kini juga menunjukkan taringnya sebagai penghasil kopi berkualitas. Sejumlah petani dan penggerak lokal di Selo mengembangkan kopi arabika asli lereng Merapi–Merbabu yang ditanam di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut, kondisi yang ideal untuk cita rasa kopi yang kompleks.

Salah satu penggeraknya adalah Mujianto, petani sekaligus pemilik Kedai Jenar Kopi di Dukuh Pentongan, Desa Samiran, Kecamatan Selo. Ia menawarkan varian kopi Yellow Caturra yang tergolong langka. Varian ini dikembangkan sejak 2019 dari bibit yang ia dapat dari kawannya di Flores, Nusa Tenggara Timur, dan meraih panen perdana pada 2021. Uniknya, buah kopi Yellow Caturra berwarna kuning saat matang, bukan merah.

Baca juga:

Kehadiran Mujianto bukan tanpa alasan. Sebelum 2018, harga kopi di Selo hanya Rp2.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Padahal, pohon kopi bagus untuk mengikat tanah di kawasan rawan bencana lereng Merapi. Melihat hal itu, ia berpikir bagaimana meningkatkan minat petani menanam kopi dan belajar pengolahan pascapanen dari menanam, merawat, memanen, hingga mengolah biji kopi.

Di Desa Jerakah, Selo, ada pula Japri Kopi milik Panji Setyawan yang mengangkat potensi kopi arabika lereng Merapi dan Merbabu. Selain berjualan di kedai, ia juga membuka lapak setiap akhir pekan di kawasan Pasar Selo. Menu andalannya antara lain espresso arabika, kopi susu gula aren, dan caffe latte yang disajikan dengan metode manual brew seperti V60 dan tubruk espresso, dengan harga mulai Rp10.000 hingga Rp15.000.

Tak berhenti di situ, Panji juga berinovasi dengan produk unik seperti teh goreng dan kombucha fermentasi kulit kopi — memanfaatkan limbah kulit kopi menjadi minuman fermentasi. Upayanya mendapat dukungan dari Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja (Diskopnaker), Dinas Pariwisata dan Olahraga (Disporapar), hingga Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (APMIKIMMDO).

Bagi penikmat kopi, memilih kopi asal Selo Boyolali juga berarti mendukung rantai ekonomi petani lokal. Kopi arabika lereng Merapi–Merbabu biasanya berkarakter asam buah yang segar dengan aroma manis; pilih sangrai medium untuk menonjolkan keasaman khasnya, atau seduh dengan metode tubruk bila menginginkan rasa yang lebih pekat.

Kopi dari lereng Merapi–Merbabu membuktikan Boyolali bukan hanya soal susu dan sapi. Di tangan para petani dan penggerak lokal, biji kopi dari ketinggian 1.600 mdpl Selo berpeluang menjadi komoditas unggulan baru yang mengangkat ekonomi desa — selama dukungan pasar dan pengolahan terus dijaga.

Sumber: Solopos (Espos.id), Indonesiabuzz.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *