Pracimoharjo di Paras Boyolali, Jejak Istana Mini Keraton Solo

Sejarah12 Views

Warga yang melintas di jalan Cepogo–Musuk mungkin pernah melihat gapura besar bergaya keraton di pinggir jalan. Di baliknya tersimpan kisah panjang tentang raja-raja Surakarta yang pernah beristirahat di lereng Merapi.

Tempat itu adalah Pesanggrahan Pracimoharjo di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, sekitar 6 km di barat Kota Boyolali. Pesanggrahan, yaitu rumah singgah atau peristirahatan keluarga raja, ini dibangun sekitar 1803–1804 dan mencapai masa paling megah di era Sunan Pakubuwana X.

Intinya

  • Menurut Tribunsolo dan Radar Solo, pesanggrahan dibangun pada 1803–1804 di era Pakubuwana IV.
  • Pada masa Pakubuwana X (naik takhta 1894), pesanggrahan dirombak menjadi semacam miniatur keraton.
  • Pesanggrahan pernah menjamu Gubernur Jenderal de Graeff (1935) dan Raja Siam beserta putri-putrinya (1937).
  • Kini tersisa sebagian bangunan; Pemdes Paras berencana menghidupkan lagi pasar tradisional dan kesenian di sana.

Siapa yang membangun pesanggrahan ini?

Tribunsolo menulis Pracimoharjo didirikan pada masa Pakubuwana IV sekitar 1803–1804. Lereng Merapi dipilih karena tenang dan indah, cocok untuk tetirah, yakni beristirahat dan memulihkan diri. Radar Solo juga menyebut tempat ini dikenal sebagai peristirahatan Pakubuwana IV.

Sumber lain berbeda soal nama rajanya. TelusuRI dan Gugatnews menyebut pendirinya Pakubuwana VI. Meski begitu, sumber-sumber itu sepakat bahwa bangunan awalnya masih sederhana.

Tribunsolo juga menyebut Pakubuwana VI kerap memakai pesanggrahan ini dan beberapa kali bertemu Pangeran Diponegoro atau pasukannya di sana untuk menyusun strategi melawan Belanda. Kisah pertemuan ini tidak ditemukan di sumber lain yang dirujuk artikel ini, sehingga sebaiknya dibaca sebagai cerita yang masih perlu ditelusuri.

Seperti apa kemegahannya di era Pakubuwana X?

Menurut TelusuRI, pesanggrahan direnovasi setelah Pakubuwana X naik takhta pada 1894 dan dilengkapi hiasan bergaya Eropa. Laman resmi Visit Jawa Tengah bahkan menyebut Pakubuwana X sebagai pendiri pesanggrahan ini.

Tribunsolo, merujuk pemerhati sejarah Solo KRMAP L. Nuky Mahendranata Adiningrat, mencatat kompleks ini dulu memiliki pendapa, pringgitan, tamansari, keputren, dalem ageng, dan alun-alun kecil. Gapuranya dibuat menyerupai Gapura Gading di keraton, dan luas kompleksnya disebut empat kali lipat dari yang tersisa sekarang.

Pesanggrahan juga dipakai menjamu tamu penting. TelusuRI mencatat kunjungan Gubernur Jenderal Jhr. A.C.D. de Graeff pada 1935 yang menyaksikan rampogan macan di alun-alun, serta Raja Siam beserta empat putrinya pada 1937 yang disambut tari Srimpi dan Wireng.

Mengapa kini tinggal sebagian?

Versi sumber soal kehancurannya berbeda. TelusuRI dan Gugatnews menyebut pesanggrahan dibumihanguskan pada 1942 agar tidak jatuh ke tangan musuh. Sementara Tribunsolo menulis tempat ini dibakar pada masa Agresi Militer Belanda.

Setelah perang, bangunan memang dibangun kembali, tetapi tidak semegah aslinya. Tribunsolo mencatat yang tersisa antara lain Sanggar Pamelangan, sumur kuno, bekas air mancur, rumah pesanggrahan, tugu pojok, gapura di empat penjuru, serta sisa fondasi dan pagar keliling.

Saat berkunjung pada 2024, penulis TelusuRI mendapati pendapa sudah dibangun lagi sebagai replika dari kayu baru. Setelah kemerdekaan, tulisnya, pesanggrahan lama tak terurus dan hanya dipakai untuk upacara hari tertentu, seperti malam 1 Sura dan Maulid Nabi.

Apa upaya warga untuk melestarikannya?

Pada Januari 2023, perangkat Desa Paras Entarto Trihatmoko menuturkan kepada Radar Solo bahwa jalan di depan pesanggrahan dulu adalah pasar tradisional yang terkenal. “Kami juga sudah meminta izin Keraton Kasunanan Surakarta soal rencana itu,” ujarnya seperti dikutip Radar Solo. Selain pasar, pesanggrahan direncanakan menjadi tempat pertunjukan wayang kulit, gamelan, dan jemparingan atau panahan tradisional.

Dukungan juga datang dari keraton. Dalam Festival Literasi Boyolali pada September 2024, GPH Puger, putra Pakubuwana XII, berharap Pracimoharjo menjadi destinasi wisata budaya, seperti diberitakan Gugatnews. Ia mengapresiasi Kepala Desa Paras Ari Yuwono dan Rendra, yang menulis buku tentang situs ini, atas acara wayang orang, ketoprak, dan pelibatan UMKM.

Apa selanjutnya?

Menurut Tribunsolo, pesanggrahan bisa dicapai sekitar 20 menit dari pusat Kota Boyolali lewat jalur Boyolali–Selo, lalu belok kanan di pertigaan Mliwis ke arah Cepogo–Musuk. Gapura besar khas keraton menandai pintu masuknya. Informasi destinasi ini juga tercantum di Visit Jawa Tengah.

Karena situs ini peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta, pengunjung sebaiknya menjaga sikap, tidak merusak sisa bangunan, dan ikut mendukung kegiatan budaya yang digelar warga Paras.

Baca juga

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *