Waspada Antraks, Boyolali Minta Pedagang Hindari Ternak Gunungkidul

Politik63 Views

BOYOLALI, boyolali.net — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali mengimbau pedagang tidak membeli ternak maupun produk hewan dari Gunungkidul dan daerah lain yang endemis antraks. Langkah antisipasi ini diambil agar penyakit zoonosis tersebut tidak masuk dan menyebar di wilayah Boyolali.

Imbauan tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 500.7.2.4/03310/4.18/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit antraks. Surat yang ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawalludin, itu memuat ketentuan bagi petugas kesehatan hewan sekaligus para pedagang ternak.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali, Afiany Rifdania, mengatakan sejumlah pedagang di Boyolali diketahui membeli ternak dari Gunungkidul. “Dalam SE dikatakan sementara ini jangan kulakan di tempat yang endemis antraks, terutama Gunungkidul dan daerah endemis lain. Bukan hanya ternak, tapi produk ikutannya seperti daging hingga kulit,” kata dia, Kamis (22/10/2026).

Baca juga:

Selain menghindari pembelian dari daerah endemis, pedagang diminta memastikan ternak yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat. Riwayat vaksinasi dapat dicek melalui Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) atau dengan menanyakannya langsung kepada peternak.

Pedagang juga diminta bekerja sama dengan petugas Disnakkan dan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) untuk mengawasi lalu lintas ternak. “Antraks ini sebenarnya berasal dari bakteri Bacillus anthracis yang bisa menyerang pada sapi, kambing, domba, dan hewan ruminansia,” jelas Afiany.

Boyolali Pernah Kasus Antraks, Vaksinasi Rutin di 5 Wilayah

Boyolali memiliki riwayat kasus antraks. Pada 2011, penyakit itu pernah terdeteksi di wilayah tersebut. Sapi yang terjangkit diketahui baru dibeli dari Pasar Karanggede, dan sehari setelahnya sapi itu mati. Sampel sisa daging diperiksa di laboratorium dan hasilnya dinyatakan positif antraks. Kasus terakhir di Boyolali terdeteksi pada 2012, dan sejak itu tidak ditemukan kasus baru hingga 2026.

Afiany menjelaskan bakteri Bacillus anthracis dapat membentuk spora yang bertahan puluhan tahun di dalam tanah. Karena itu, daerah yang pernah terkena antraks perlu divaksinasi secara rutin setiap tahun. Disnakkan Boyolali rutin melakukan vaksinasi di lima wilayah yang pernah menjadi daerah endemis, yakni Desa Karangmojo dan Sumberagung di Kecamatan Klego, Desa Sempu di Kecamatan Andong, Desa Banyuanyar di Kecamatan Ampel, serta Desa Gunung di Kecamatan Simo.

Pada 2026, Disnakkan menyediakan sekitar 1.000 dosis vaksin antraks dan memprioritaskannya untuk wilayah yang berbatasan dengan lokasi kasus antraks. Selain vaksinasi, petugas melakukan edukasi kepada warga agar tidak menyembelih maupun mengonsumsi hewan yang mati mendadak, serta mengambil sampel tanah dan surveilans dua kali dalam setahun.

“Selama ini, dari 2012 hingga 2026 ini kami tidak menemukan kasus baru. Jangan sampai ya, karena antraks penyakit yang menular ke manusia dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kalau kabupaten dinyatakan KLB antraks, nanti tidak boleh ada lalu lintas ternak,” tegasnya.

Sumber: Solopos/Espos.id. Tanggal peristiwa: Kamis, 22 Oktober 2026.


Info belanja:
Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *