Bagi warga Tumang di Kecamatan Cepogo, dentang palu di atas lembaran tembaga adalah bunyi sehari-hari. Kerajinan tembaga di lereng Merapi-Merbabu itu sudah turun-temurun menjadi sumber penghidupan, dan di antara para pemahatnya ada satu nama perempuan yang bertahan puluhan tahun.
Dia adalah Sukamti (57), warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Kisahnya diangkat Fokus Jateng pada Minggu (27/9/2026) dan Radar Solo pada Senin (28/9/2026). Sukamti menekuni pekerjaan memahat tembaga sejak 1985, atau sekitar 41 tahun.
Intinya
- Sukamti (57) memahat tembaga sejak 1985 di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo.
- Dari sekitar 100 pemahat di lingkungannya, hanya dia yang perempuan.
- Ia bekerja di Muda Tama Gallery dan menjadi tulang punggung keluarga.
- Pemilik galeri menilai harga jual kerajinan tangan belum sebanding dengan nilai seninya.
Siapa Sukamti dan bagaimana ia belajar memahat?
Keterampilan memahat diperoleh Sukamti dari orang tuanya, lalu terus diasah bersama mendiang suaminya, Widodo. Menurut Fokus Jateng, sang suami yang mendorongnya punya keterampilan dan mampu mencari penghasilan sendiri.
“Yang mengajari saya suami saya dulu, Pak Widodo. Walau saya perempuan, kamu harus bisa. Kamu harus bisa mencari nafkah,” tutur Sukamti, seperti dikutip Fokus Jateng.
Pesan itu ia pegang hingga kini. “Di Tumang ini dari 100 orang cuma saya yang perempuan,” katanya kepada media yang sama. Radar Solo juga mencatat Sukamti sebagai satu-satunya perempuan di antara sekitar 100 pemahat di lingkungannya.
Mengapa memahat jadi sandaran ekonomi keluarganya?
Bagi Sukamti, memahat bukan sekadar pekerjaan. Dari tangannya lahir penghasilan untuk kebutuhan rumah tangga hingga biaya sekolah anak.
“Ya, kan saya harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk biaya anak sekolah, ya apa keperluan di rumah. Saya kan jadi tulang punggung di rumah,” ujarnya, seperti dikutip Radar Solo.
Ia mengibaratkan dirinya seperti tokoh wayang Srikandi. “Iya, saya harus cari rezeki, saya jangan cuma jadi perempuan cuma nongkrong,” kata Sukamti kepada Radar Solo.
Seperti apa peran pemahat dalam industri tembaga Tumang?
Menurut Radar Solo, perajin Tumang menghasilkan beragam produk, mulai dari ornamen dinding, perlengkapan rumah tangga, hingga lampu hias eksklusif bernilai puluhan juta rupiah. Prosesnya bertahap: pemotongan lembaran logam, pembentukan awal, pengukiran dengan pahat manual, lalu penyelesaian akhir atau finishing.
Tahap pahat inilah yang menjadi keahlian Sukamti di Muda Tama Gallery. Pemilik galeri, Agus Susilo, menyebut kemampuan itu kini langka. “Sekarang itu untuk memahat memang jarang, tapi kalau Ibu Sukamti ini memang dari dulu keahliannya adalah memahat,” ujarnya, seperti dikutip Fokus Jateng.
Kepada Fokus Jateng, Agus menjelaskan tidak semua pekerja mampu menghasilkan pahatan yang halus dan rapi. Karena itu, Sukamti tetap dipercaya mengerjakan bagian yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Apakah harga kerajinan tangan sudah sepadan?
Di balik keahlian itu, ada persoalan klasik. Agus menilai harga jual produk buatan tangan belum sebanding dengan kerumitan dan nilai seninya. “Kalau sudah dinilai dari seninya, itu sebenarnya belum sebanding dengan harga yang kita jual sekarang,” katanya, seperti dikutip Radar Solo.
Menurut Agus, karya pahatan tangan sebenarnya berpeluang dijual dengan nilai lebih tinggi. Kendalanya, akses pasar dan kekuatan merek (branding) produk perajin lokal belum sekuat karya seniman yang sudah punya nama. Salah satu produk yang disebut bernilai jual tinggi adalah lampu hias, karena ukiran dan pahatannya dikerjakan manual.
Apa selanjutnya?
Kedua sumber belum menyebut program khusus untuk para pemahat Tumang. Namun, dari penuturan Agus, pekerjaan rumah sentra tembaga ini jelas: memperluas pasar dan memperkuat merek agar kerja tangan seperti milik Sukamti dihargai sepadan.
Bagi warga yang ingin mengenal kerajinan ini, Dukuh Tumang di Desa Cepogo dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan tembaga di Boyolali, tempat para perajin seperti Sukamti menjaga warisan keterampilan sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.












