73 Sumur Dalam Dibangun untuk Sawah, Boyolali Bidik Panen 3 Kali

Kemarau tahun ini menekan produksi padi di Boyolali, terutama di wilayah dengan sumber air terbatas dan lahan tadah hujan. Bagi petani, ketersediaan air menentukan berapa kali sawah bisa ditanami dalam setahun.

Untuk menjawab persoalan itu, Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali membangun 73 sumur dalam untuk mengairi sawah. Kepala Dispertan Boyolali Suyanta menyampaikan perkembangan proyek tersebut kepada wartawan pada Kamis (27/8/2026) dan Jumat (28/8/2026).

Intinya

  • Boyolali mendapat sekitar 73 unit sumur dalam dari Kementerian Pertanian dengan anggaran 2026.
  • Biaya per sumur rata-rata Rp110 juta–Rp150 juta; realisasi fisik hampir 60 persen hingga akhir Agustus 2026.
  • Satu sumur diproyeksikan mengairi 7–10 hektare sawah, antara lain di Klego dan Karanggede.
  • Meski panen turun sekitar 3 persen, Dispertan menyebut produksi padi Boyolali masih surplus sekitar 7.000 ton.

Di mana saja sumur dalam dibangun?

Pembangunan di 73 titik dimulai sejak Juli 2026. “Beberapa sumur diberikan di Klego, Karanggede, dan sejumlah kecamatan sudah mulai berhasil sumurnya,” kata Suyanta, seperti dikutip Espos.

Sumur dalam adalah sumur bor yang menyedot air tanah dari lapisan dalam menggunakan pompa, sehingga tetap mengalir saat sungai dan saluran irigasi mengering. Menurut Fokus Jateng, setiap unit diproyeksikan mampu mengairi 7 hingga 10 hektare lahan pertanian.

Proyek ini tidak sepenuhnya mulus. Suyanta menyebut ada kendala teknis di Desa Jagoan karena tanah bagian dalam ambrol, dan kini sedang dalam proses rehabilitasi.

Berapa biayanya dan siapa yang mendanai?

Anggaran berasal dari alokasi Kementerian Pertanian tahun 2026, dengan biaya rata-rata Rp110 juta hingga Rp150 juta per unit. Selain itu, Pemkab Boyolali membangun tiga unit sumur dalam melalui APBD 2026.

Dalam keterangan sebelumnya kepada Espos pada Kamis (13/8/2026), Suyanta menyebut APBD 2026 juga dipakai untuk membangun empat unit irigasi tersier, di samping upaya pompanisasi, pemanfaatan jaringan irigasi air tanah (JIAT), dan pengaturan pola tanam.

Apa manfaatnya bagi petani?

Tujuan utamanya menaikkan indeks pertanaman, yaitu berapa kali satu lahan ditanami dalam setahun. “Adanya sumur dalam itu agar sawah yang panennya dulu dua kali, jadi tiga kali. Kalau memperluas sawah tidak mungkin, bisanya menambah perkalian [produksi] tanah,” jelas Suyanta kepada Espos.

Menurut Suyanta, kecamatan yang biasanya bisa panen tiga kali karena air melimpah antara lain Simo, Nogosari, Ngemplak, Banyudono, dan Sawit.

Bagaimana kondisi produksi padi Boyolali?

Kemarau dan serangan hama sempat menekan hasil panen. “Hasil panen kita memang sempat berkurang sekitar 3 persen akibat serangan hama. Namun berdasarkan perhitungan, Boyolali masih memiliki surplus sekitar 7 ribu ton. Cadangan pangan kita aman setidaknya sampai Oktober mendatang,” kata Suyanta, seperti dikutip Fokus Jateng.

Data Dispertan yang dikutip Espos pada pertengahan Agustus menunjukkan produksi padi Mei–Agustus 2026 diperkirakan 84.107 ton gabah kering giling (GKG), turun sekitar 3,15 persen dibanding periode yang sama pada 2025 sebesar 86.649 ton GKG. Penyebabnya antara lain berkurangnya luas panen serta serangan wereng batang cokelat dan tikus.

Apa selanjutnya?

Dispertan memperkirakan kekeringan berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Sambil menunggu sumur rampung, petani diimbau menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air dan tidak memaksakan menanam padi.

“Kami sarankan ketika airnya tidak mencukupi bisa menanam jagung, kacang, dan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air,” kata Suyanta. Informasi program pertanian dapat dipantau melalui kanal resmi Pemkab Boyolali di boyolali.go.id.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *