Waduk Bade dan Cengklik Menyusut, Petani Diminta Tanam Palawija

Berita, Pertanian23 Views

Boyolali.net — Rabu (30/9/2026) — Debit air di dua waduk utama Kabupaten Boyolali, Waduk Bade di Kecamatan Klego dan Waduk Cengklik, menyusut tajam di puncak musim kemarau. Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali menganjurkan petani di daerah layanan irigasi Waduk Bade menanam palawija, bukan padi, pada Musim Tanam III.

Anjuran itu penting bagi petani di Kecamatan Andong dan Klego. Menurut Kepala Dispertan Boyolali Suyanta, Waduk Bade mengairi daerah layanan irigasi sekitar 1.353 hektare di desa-desa kedua kecamatan tersebut, berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

Intinya

  • Waduk Bade (Klego) dan Waduk Cengklik mengalami penurunan debit dan volume air selama kemarau.
  • Daerah layanan irigasi Waduk Bade sekitar 1.353 hektare, meliputi desa-desa di Kecamatan Andong dan Klego.
  • Sesuai Keputusan Bupati tentang pola tanam di Waduk Bade, petani dianjurkan menanam palawija pada Musim Tanam III.
  • Bercocok tanam di dasar Waduk Cengklik yang mengering tidak diperbolehkan tanpa koordinasi dengan pengelola waduk.

Mengapa petani diminta tidak menanam padi?

Suyanta menjelaskan, dengan turunnya ketersediaan air, seluruh areal layanan Waduk Bade perlu diantisipasi lewat pemilihan pola tanam yang tepat. “Dengan menurunnya ketersediaan air, seluruh areal layanan tersebut perlu diantisipasi melalui pemilihan pola tanam yang tepat agar ketersediaan air tetap mencukupi,” ujarnya, seperti dikutip Radar Solo.

Rujukannya adalah Keputusan Bupati Boyolali tentang Pedoman Pelaksanaan Pola Tanam dan Tata Tanam pada Daerah Irigasi di Waduk Bade. Dalam pedoman itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) merekomendasikan petani menanam palawija pada Musim Tanam III.

Padi tidak direkomendasikan pada musim tanam tersebut karena kebutuhan airnya lebih tinggi. Palawija adalah tanaman pangan selain padi, seperti jagung atau kacang-kacangan, yang umumnya lebih hemat air.

Bolehkah dasar waduk yang kering ditanami?

Radar Solo melaporkan banyak warga memanfaatkan dasar Waduk Cengklik yang mengering untuk bercocok tanam. Suyanta menegaskan aktivitas pertanian itu secara regulasi tidak diperbolehkan.

Menurutnya, wilayah pasang surut termasuk zona sempadan dan batas genangan waduk. Pengolahan tanah di dasar waduk dikhawatirkan memicu pendangkalan atau sedimentasi dan merusak struktur waduk. Lahan waduk juga aset milik negara, sehingga pemanfaatan tanpa izin resmi dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hukum.

“Jika ingin memanfaatkan lahan tersebut, warga harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengelola waduk untuk memastikan pemanfaatannya aman dan sesuai ketentuan,” kata Suyanta, seperti dikutip Radar Solo.

Seberapa besar dampak kemarau bagi petani?

Kepada Tribun Solo, Senin (29/9/2026), Suyanta menyebut kemarau panjang menurunkan luas tanam, terutama sawah yang bergantung pada irigasi permukaan. Jadwal tanam juga bergeser karena petani menunggu air, dan sebagian lahan berpotensi bera atau tidak ditanami.

Biaya produksi ikut naik karena petani harus memakai pompa, sumur, atau sumber air lain. Kemarau juga membuat lingkungan lebih mendukung hama seperti tikus dan wereng batang cokelat.

Untuk mitigasi, Dispertan mengatur distribusi air dengan mengoptimalkan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dan menetapkan prioritas tanam. Lahan dengan sumber air lebih terjamin diprioritaskan untuk tanaman pangan, sedangkan lahan yang airnya terbatas perlu menyesuaikan komoditas dan waktu tanam.

Dispertan juga mengoptimalkan sumber air alternatif seperti sumur dalam, sumur dangkal, pompa, embung, dan long storage, serta membantu rehabilitasi dan pembangunan irigasi tersier, perpompaan, dan perpipaan. Sebelumnya, Pemkab menyiapkan 73 sumur dalam untuk sawah, sementara warga di sejumlah wilayah harus merogoh kocek untuk membeli air.

Informasi penting untuk masyarakat

  • Petani di daerah layanan Waduk Bade (Andong dan Klego) dianjurkan menanam palawija, bukan padi, pada Musim Tanam III.
  • Jangan mengolah dasar Waduk Cengklik yang mengering tanpa koordinasi dengan pengelola waduk.
  • Waspadai hama tikus dan wereng batang cokelat yang berpotensi meningkat saat kemarau.
  • Pembagian air irigasi dikoordinasikan lewat Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) setempat.

Apa selanjutnya?

Dispertan Boyolali akan terus mengatur prioritas tanam sesuai ketersediaan air di tiap wilayah. Petani yang ragu memilih komoditas dapat berkonsultasi dengan P3A setempat, sementara pemanfaatan lahan waduk harus dikoordinasikan dengan pengelola waduk. Info kekeringan lain: DPRD dan Pemkab menambah Rp400 juta untuk atasi kekeringan.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *