Candi Lawang Cepogo, Peninggalan Hindu Abad ke-9 di Lereng Merapi Boyolali

Wisata31 Views

BOYOLALI — Di balik sejuknya lereng timur Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Dangean, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, berdiri sebuah peninggalan kuno yang belum banyak dikenal wisatawan: Candi Lawang. Situs Hindu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini menjadi saksi bisu peradaban Jawa Tengah pada abad ke-9, meski kini hanya tersisa reruntuhan yang sunyi dan teduh.

Candi Lawang pertama kali dilaporkan keberadaannya pada 1919 oleh P.A. Hadiwijaya, Kepala Perkebunan Sukabumi di Paras, Boyolali. Saat itu ia menemukan tumpukan batu candi yang terkubur di tengah kebun kopi. Setahun kemudian, yakni pada 1920, dilakukan ekskavasi atau penggalian di lokasi tersebut, dan barulah struktur candi yang utuh sebagian terungkap.

Kompleks situs ini terdiri atas satu candi induk dan empat candi perwara (pendamping) yang mengapitnya. Candi induk berdenah bujur sangkar berukuran 6,4 meter x 6,4 meter dengan tinggi batur 1,24 meter, menghadap ke barat. Di bagian pintu terdapat prasasti pendek berbunyi “ju thi ka la ma sa ika”. Dari arah situs ini, pengunjung dapat memandang langsung ke arah Gunung Merapi dan Merbabu yang menjulang.

Baca juga:

Temuan arkeologi di sekitar Candi Lawang memperkuat identitasnya sebagai situs Hindu. Ditemukan yoni, arca Agastya, dan arca Durga Mahisasuramardini bertangan delapan yang kini disimpan di Museum Radya Pustaka Solo. Hiasan candi berupa antefiks atau gunungan, motif kembang (guirlande), dan pola geometris berbentuk gawang. Nama “Lawang” sendiri berarti “pintu” dalam bahasa Jawa, diperkirakan merujuk pada struktur tumpukan batu candi induk yang menyerupai pintu.

Posisi Candi Lawang sedikit tersembunyi karena berada persis di belakang rumah warga, di atas lahan seluas sekitar 500 meter persegi dengan tebing di sisi utara dan timur. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 932 meter di atas permukaan laut, di antara Kali Musuk dan Kali Gandul. Meski belum dipugar secara menyeluruh dan belum sepopuler Prambanan atau Borobudur, justru ketenangannya menjadi daya tarik: hamparan rumput hijau, pepohonan teduh, dan udara sejuk lereng Merapi menjadikannya tempat yang pas untuk wisata sejarah sekaligus “healing”.

Umat Hindu setempat masih memanfaatkan situs ini untuk kegiatan sembahyang. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota Boyolali, dan dapat dicapai sekitar 30 menit dari pusat Kota Solo. Momen terbaik berkunjung adalah sore hari, sembari menanti matahari terbenam di antara dua gunung Merapi dan Merbabu. Untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa bertanya kepada penduduk setempat dari Pasar Cepogo atau menggunakan aplikasi peta daring.

Candi Lawang menjadi bukti bahwa Boyolali tak hanya kaya wisata alam, tetapi juga menyimpan warisan budaya berharga yang menunggu untuk dikenal lebih luas.

Sumber: Wikipedia (Candi Lawang), Solopos/Espos.id, diswaysolo.id, kebudayaan.kemdikbud.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *