Mengenal Asal-usul Nama Boyolali dan Kisah di Balik Hari Jadinya

Sejarah29 Views

Setiap awal Juni, warga Boyolali akrab dengan kirab obor, ziarah, dan kirab budaya. Namun tidak semua orang tahu mengapa tanggal 5 Juni dipilih sebagai hari lahir kabupaten ini, dan dari mana sebenarnya nama Boyolali berasal.

Pada 5 Juni 2026 lalu, Kabupaten Boyolali genap berusia 179 tahun. Hari jadinya ditetapkan pada 5 Juni 1847 lewat Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1982, setelah melalui penelitian Lembaga Penelitian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sementara itu, asal-usul namanya bersandar pada cerita tutur tentang Ki Ageng Pandan Arang.

Intinya

  • Hari Jadi Boyolali: 5 Juni 1847, berdasar Staatsblad 1847 Nomor 30 tertanggal 5 Juni 1847.
  • Penetapannya didahului penelitian Lembaga Penelitian UNS (kerja sama sejak 11 September 1981) dan seminar pada 23 Februari 1982.
  • Dasar hukumnya Perda Kabupaten Dati II Boyolali Nomor 3 Tahun 1982, diundangkan 22 Maret 1982.
  • Nama Boyolali menurut cerita rakyat berasal dari ucapan “baya wis lali” dalam perjalanan Ki Ageng Pandan Arang ke Tembayat.

Mengapa hari jadinya 5 Juni?

Menurut TribunnewsWiki yang merujuk situs resmi Pemkab Boyolali, penetapan hari jadi tidak dilakukan sembarangan. Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian UNS pada 11 September 1981 untuk menelusuri sejarah daerah.

Hasilnya dibahas dalam seminar Sejarah Hari Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali di Gedung DPRD Boyolali pada 23 Februari 1982. Seminar itu menyimpulkan bahwa 5 Juni 1847 adalah hari jadi Kabupaten Boyolali.

Dasar tanggal tersebut, seperti dikutip IDN Times dari situs resmi Pemkab, adalah Surat Perjanjian Dalem Nota “Dinten Setu Wage Kaping 21 Jumadil Akhir, Dhal. 1775, Dhukut, Sedha” atau Staatsblad 1847 tanggal 5 Juni 1847 Nomor 30. Staatsblad adalah lembaran negara pada masa Hindia Belanda.

Kesimpulan itu lalu dikukuhkan dalam Perda Kabupaten Daerah Tingkat II Boyolali Nomor 3 Tahun 1982 tentang Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Boyolali. Perda tersebut diundangkan dalam Lembaran Daerah Nomor 5 tanggal 22 Maret 1982 Seri D Nomor 3.

Dari mana nama Boyolali berasal?

Sumber-sumber lama ternyata tidak menyebut nama Boyolali. Menurut uraian situs resmi Pemkab yang dikutip IDN Times dan TribunnewsWiki, nama itu tidak disebut dalam Serat Babad Pengging maupun Serat Mataram, dan belum dikenal pada masa Kerajaan Demak Bintoro maupun Kerajaan Pengging.

Yang beredar luas adalah versi legenda atau cerita tutur. Alkisah, Ki Ageng Pandan Arang, Bupati Semarang pada abad XVI, diutus Sunan Kalijaga menuju Gunung Jabalakat di Tembayat, Klaten, untuk menyiarkan agama Islam. Dalam perjalanan, ia berjalan jauh di depan hingga meninggalkan anak dan istrinya.

Sambil menunggu, Ki Ageng beristirahat di sebuah batu besar di tengah sungai dan berucap “Bayawis lali wong iki”, yang artinya “Sudah lupakah orang ini”. Dari kata “baya wis lali” itulah, menurut cerita rakyat, lahir nama Boyolali.

Apakah hanya ada satu versi cerita?

Tidak. Filolog dan dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo, Adi Deswijaya, kepada Kompas.com (2018) menyebut versi dari buku beraksara Jawa “Kyai Ageng Pandhanarang” karya Soewignja (1938). Dalam versi ini, justru Nyai Ageng yang tertinggal dan berkata, “Kyai, baya wis lali, teka ninggal bae”, yang kemudian menjadi nama Bayalali.

Cerita tutur juga menyebut batu besar di Kali Pepe, sungai yang membelah kota, sebagai tempat istirahat Ki Ageng. Namun uraian yang sama mencatat belum pernah ada penelitian tentang batu itu. Ada pula batu berlekuk mirip dakon di depan Pasar Sunggingan yang konon menurut warga menjadi tempat istirahat Nyi Ageng, dan dikenal sebagai mBah Dakon.

Karena itu, kisah Ki Ageng Pandan Arang sebaiknya dipahami sebagai warisan cerita rakyat, bukan catatan sejarah yang sudah dibuktikan. Yang tercatat resmi adalah tanggal pembentukan kabupatennya.

Apa maknanya bagi warga sekarang?

Kata “Boya-lali” juga menjadi sesanti pada lambang daerah. Menurut TribunnewsWiki, boya berarti tidak dan lali berarti lupa. Sesanti ini bermakna para pelaku pemerintahan harus selalu waspada dalam menjalankan tugas, dan rakyat pun penuh kewaspadaan dalam melaksanakan kewajibannya.

Ikatan dengan Ki Ageng Pandanaran juga dijaga lewat ziarah tahunan ke makamnya di Bukit Jabalkat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. “Dalam sejarah nama Boyolali memang tidak bisa lepas dari Ki Ageng Pandanaran,” kata Bupati Boyolali Agus Irawan pada 2025, seperti dikutip IDN Times.

Apa selanjutnya?

Peringatan Hari Jadi ke-179 pada Juni lalu mengusung tema “Boyolali Bersolek, Merawat Tradisi dan Memoles Potensi”. Menurut jadwal yang dimuat Jatengpos, rangkaiannya dibuka 4 Juni 2026 dengan khataman serta Kirab Obor dan Niti Tilas menuju Kali Gede, dilanjutkan ziarah ke makam Ki Ageng Pandanaran pada 5 Juni, lalu Kirab Budaya dan Boyolali Night Carnival pada 13 Juni.

Dengan hitungan yang sama, Hari Jadi ke-180 akan jatuh pada 5 Juni 2027. Warga yang ingin mengikuti agenda resmi dapat memantau kanal Pemkab Boyolali di boyolali.go.id.

Baca juga

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *