DPRD dan Pemkab Boyolali Tambah Rp400 Juta untuk Atasi Kekeringan

Berita, Politik31 Views

Bagi warga di wilayah utara Boyolali, datangnya truk tangki air bersih kini menjadi penantian sehari-hari. Kemarau panjang membuat sumur dan sumber air di sejumlah desa mengering, sehingga dukungan anggaran untuk pengiriman air menjadi kebutuhan mendesak.

DPRD Boyolali bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali menyepakati tambahan anggaran sekitar Rp400 juta untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) guna menangani kekeringan. Kesepakatan itu disampaikan Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Boyolali, Suyadi, pada Jumat (25/9/2026), seperti dilaporkan TribunSolo dan Espos.

Intinya

  • DPRD dan Pemkab menyepakati tambahan anggaran sekitar Rp400 juta untuk BPBD pada 2026.
  • Hingga Kamis (24/9/2026), BPBD mencatat 5.654.000 liter air bersih tersalur lewat 1.108 tangki.
  • Kekeringan meluas ke 13 kecamatan, 45 desa, dan 144 dukuh; sekitar 36.083 jiwa terdampak.
  • Dewan mendorong solusi jangka panjang: penghijauan, embung, dan sumur dalam.

Dari mana tambahan anggaran itu?

Menurut Suyadi, tambahan dana tersebut disepakati dalam pembahasan perubahan anggaran bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), yakni tim eksekutif yang menyusun rancangan anggaran. “Disepakati bersama TAPD ada anggaran tambahan sekitar Rp400 juta untuk antisipasi kekeringan dan droping air bersih pada 2026,” kata dia, seperti dikutip Espos.

Kepada Fokus Jateng, Suyadi menyebut kebutuhan itu sudah terlihat sejak rapat dengan BPBD sebelum perubahan anggaran. “Dalam rapat dengan BPBD sebelum perubahan, disimulasikan kurang anggaran sekitar Rp 450 juta,” ujarnya.

Seberapa luas kekeringan saat ini?

Data BPBD yang dipaparkan Plt Kepala BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo kepada Espos menunjukkan kekeringan sudah melanda 13 kecamatan, 45 desa, dan 144 dukuh. Air bersih sebanyak 5.654.000 liter telah dikirim lewat 1.108 tangki kepada 12.082 keluarga atau sekitar 36.083 jiwa.

Wonosamodro menjadi kecamatan dengan distribusi terbanyak, yakni 2,189 juta liter. Berikutnya Wonosegoro 1,189 juta liter dan Juwangi 1,063 juta liter. Ketiganya disebut sebagai wilayah yang hampir setiap tahun terdampak cukup parah, meski tidak di semua desa.

Kecamatan lain yang menerima kiriman air antara lain Tamansari, Cepogo, Kemusu, Musuk, Selo, Klego, Gladagsari, Ampel, Andong, dan Karanggede.

Apa saja usulan jangka panjang dari dewan?

Suyadi menilai penanganan kekeringan tidak cukup dengan mengirim air bersih. “Selain itu, kami juga mengupayakan solusi jangka panjang seperti pembangunan embung atau sumur dalam untuk ketersediaan air bersih,” jelasnya, seperti dikutip TribunSolo. Langkah lain yang didorong adalah edukasi penghijauan dan penanaman vegetasi penahan air.

Menurut Suyadi, pemerintah juga perlu menghitung kebutuhan anggaran pengeboran sumur, karena di Boyolali bagian utara kedalamannya bisa mencapai 80 hingga 180 meter.

Ketua DPRD Boyolali Susetya Kusuma Dwi Hartanta menyampaikan harapan serupa. “Misal bisa sumur dalam ya sumur dalam, misal ada aliran sungai ya mari dibuat embung. Jangan sampai kekeringan ini menjadi suatu budaya,” katanya kepada Espos.

Apakah ada bantuan air selain dari BPBD?

Ada. Fokus Jateng dan TribunSolo melaporkan Fraksi PDI Perjuangan bersama DPC PDI Perjuangan Boyolali ikut mengirim air bersih menggunakan satu truk tangki, dengan rencana 10 hingga 20 tangki per hari. Titik pengiriman ditentukan berdasarkan usulan pengurus partai di tingkat kecamatan dan ranting.

Anggota fraksi Gamma Wijaya menyebut pengiriman sudah menjangkau beberapa desa di Wonosegoro dan Wonosamodro, lalu berikutnya Kemusu. TribunSolo mencatat pelaksanaannya menghadapi kendala karena jarak sumber air ke lokasi sasaran cukup jauh.

Apa selanjutnya?

Tambahan anggaran sekitar Rp400 juta itu diarahkan untuk antisipasi kekeringan dan pengiriman air bersih melalui BPBD pada 2026. BPBD menyatakan pengiriman air tetap berjalan sebagai solusi jangka pendek, sementara dewan mendorong pemerintah menyiapkan anggaran embung dan sumur dalam. Susetya menyebut rencana penganggaran embung atau sumur dalam itu akan dibicarakan bersama rekan-rekan fraksi, seperti dikutip Fokus Jateng.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *