Nama Cepogo sudah lama melekat dengan kerajinan logam. Dari tangan para perajinnya lahir lampu hias, kaligrafi, peralatan rumah tangga, hingga kubah masjid. Kini mereka mendapat pendampingan agar usaha turun-temurun itu lebih siap bersaing di era digital.
Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mendampingi Kelompok Perajin Cepogo di Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) UNS Tahun 2026, seperti dilaporkan Joglosemarnews, Kamis (24/9/2026). Pendampingan mencakup revitalisasi mesin produksi, digitalisasi manajemen usaha dan pemasaran, serta pengembangan wisata industri kreatif.
Intinya
- Program PDB UNS 2026 menyasar Kelompok Perajin Cepogo, Boyolali, yang mengolah tembaga, kuningan, dan aluminium.
- Fokusnya: perawatan dan pengoperasian mesin, prosedur produksi standar, pencatatan keuangan digital, dan pemasaran daring.
- Tim dipimpin Prof. Syamsul Hadi dari Fakultas Teknik UNS, melibatkan dosen ISI Surakarta dan Unisri.
- Bersama Pokdarwis Pogo Wijaya, kerajinan tembaga diarahkan menjadi wisata edukasi.
Apa masalah yang dihadapi perajin?
Ketua tim, Prof. Dr. Eng. Ir. Syamsul Hadi dari Fakultas Teknik UNS, menjelaskan bahwa keterampilan mengolah logam di Cepogo diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, perajin masih menghadapi keterbatasan peralatan produksi, pengelolaan keuangan yang belum terdigitalisasi, dan pemanfaatan teknologi pemasaran yang belum optimal.
Tim yang ia pimpin bersifat lintas bidang. Selain Syamsul, ada Catur Sugiarto dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, serta Prof. Heru Sukanto dan Prof. Zainal Arifin dari Fakultas Teknik UNS. Program ini juga menggandeng dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Apa saja bentuk pendampingannya?
Menurut Syamsul, salah satu fokus utama adalah peralatan produksi. “Para perajin mendapatkan pendampingan dalam pengoperasian dan pemeliharaan mesin, sekaligus diperkenalkan dengan prosedur produksi yang lebih terstandar,” ujarnya, seperti dikutip Joglosemarnews. Harapannya, pekerjaan lebih efisien dan mutu produk lebih konsisten.
Di sisi usaha, perajin diajak mencatat transaksi dan biaya produksi secara digital, menghitung harga pokok produksi, sampai menyusun laporan keuangan. Harga pokok produksi adalah total biaya untuk membuat satu barang, yang menjadi dasar menentukan harga jual agar tidak rugi.
Pemasaran pun digarap. Perajin didorong memakai kanal digital supaya produk tembaga Cepogo menjangkau pembeli di luar Boyolali dan tidak hanya bergantung pada pasar tradisional.
Bagaimana kaitannya dengan wisata?
Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pogo Wijaya, tim UNS mendorong penggabungan kegiatan produksi dengan wisata edukatif. “Melalui konsep tersebut, wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk membeli produk kerajinan, tetapi juga dapat melihat secara langsung proses pembuatan kerajinan tembaga,” kata Syamsul.
Penguatan wisata dilakukan lewat standardisasi pelayanan, paket wisata edukatif, serta teknologi digital untuk mengelola kunjungan dan promosi. Dengan begitu, perajin berpeluang mendapat tambahan pemasukan dari kegiatan wisata, bukan hanya dari penjualan barang.
Apakah ini pendampingan pertama di Cepogo?
Bukan. Pada September 2025, Mettanews melaporkan UNS dan Unisri menjalankan Program Pengabdian Kosabangsa 2025 di Desa Cepogo dengan konsep Digiwisata, yakni promosi wisata kerajinan logam memakai media digital. Catur Sugiarto saat itu memimpin tim pendamping dari UNS.
Dalam program tersebut, Prof. Zainal Arifin menekankan dukungan mesin produksi, sedangkan Ketua Tim Pelaksana dari Unisri, Dewi Saptantinah, menekankan literasi keuangan digital. “Cepogo memiliki potensi besar di bidang wisata kerajinan logam,” ujar Catur, seperti dikutip Mettanews.
Apa selanjutnya?
Menurut Joglosemarnews, program PDB 2026 diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif Desa Cepogo yang lebih mandiri, dengan akademisi Unisri turut menyusun prosedur operasional wisata. Sumber belum menyebut jadwal peluncuran paket wisata edukasi tersebut. Warga dan pelaku UMKM dapat memantau informasi program pemberdayaan melalui kanal resmi Pemkab di boyolali.go.id.












