Menyusuri Jejak Keraton Surakarta di Pengging, dari Masjid hingga Apem

Sejarah30 Views

Pengging di Kecamatan Banyudono dikenal dengan umbul atau kolam mata airnya yang setiap malam 1 Suro didatangi ribuan warga. Namun kawasan ini juga menyimpan jejak panjang hubungan Boyolali dengan Keraton Kasunanan Surakarta.

Dalam satu kawasan, warga bisa menemukan Masjid Cipto Mulyo peninggalan Sri Susuhunan Pakubuwono X, makam pujangga keraton Raden Ngabehi Yosodipuro, serta tradisi tahunan Sebaran Apem Kukus Keong Mas yang digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa.

Intinya

  • Menurut prasasti kayu di serambinya, Masjid Cipto Mulyo didirikan Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je, atau sekitar 1905 Masehi.
  • Masjid ini dibangun oleh Pakubuwono X, raja Surakarta yang bertakhta pada 1893–1939.
  • Makam R.Ng. Yosodipuro berada di dekat masjid dan menjadi tujuan ziarah dengan upacara Sanggaran setiap Jumat Pahing.
  • Sebaran Apem Kukus Keong Mas ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2020.

Kapan Masjid Cipto Mulyo dibangun?

Tahun pendiriannya tertulis pada prasasti kayu beraksara Jawa di serambi depan, tepat di atas tangga masuk. “Masjid ini didirikan pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil akhir 1838 Je. Kalau Masehi sekitar tahun 1905,” kata sesepuh masjid, Achmadi, seperti dikutip detikcom pada 2019.

Sumber lain sedikit berbeda. NU Online (2014) mengutip tokoh masyarakat setempat yang menyebut tanggal 24 Jumadilakhir 1838 atau sekitar 1909.

Laman Pemprov Jawa Tengah juga mencatat bahwa masjid itu awalnya didirikan oleh ayah Yosodipuro, Tumenggung Padmonegoro, dengan nama Masjid Karangduwet. Pakubuwono X kemudian memperbaruinya dan memberi nama Cipto Mulyo.

Apa yang membuat masjid ini unik?

Namanya memakai bahasa Jawa, bukan bahasa Arab. Menurut Achmadi, nama itu bermakna harapan agar hidup “sejahtera lahir dan batin di dunia dan akhirat”. Bangunannya bergaya limasan menyerupai pendapa Jawa, dengan tiang kayu jati.

Detikcom mencatat tiang dan usuk kayu jatinya masih asli, begitu pula bedug dari kayu utuh dan kentongan bertuliskan PB X. Arah kiblatnya serong ke kiri, berbeda dengan kebanyakan masjid. Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah telah memasang penanda arah kiblat dari kuningan di lantai serambi.

Siapa Yosodipuro yang dimakamkan di Pengging?

Raden Ngabehi Yosodipuro adalah pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat. Menurut laman pariwisata Pemprov Jawa Tengah, makamnya berada di Desa Bendan, Banyudono, sekitar 12 kilometer ke arah timur Kota Boyolali, dan menjadi objek wisata ziarah dengan upacara Sanggaran setiap Jumat Pahing.

Detikcom menyebut kompleks makam itu berada di belakang Masjid Cipto Mulyo, yang juga menjadi jejak penyebaran Islam di wilayah Pengging.

Bagaimana asal-usul tradisi Sebaran Apem Keong Mas?

Asal-usul tradisi ini berasal dari cerita tutur yang diwariskan turun-temurun, dan versinya berbeda-beda. Intinya, sawah warga Pengging diserang hama keong mas hingga gagal panen, lalu warga mengadu kepada Yosodipuro. Warga kemudian membuat apem yang dikukus dan dibungkus janur hingga berbentuk lancip seperti keong, sebagai doa dan rasa syukur.

Soal waktunya, para narasumber tidak sepakat. Pegiat budaya R Surojo kepada detikJateng (2025) menyebut peristiwa itu terjadi pada masa Pakubuwono IV. Pengamat budaya Kusworo S Rahadyan kepada Fokus Jateng (2026) menyebut tradisi ini dirintis Yosodipuro II pada 1830-an. Karena itu, kisah ini sebaiknya dibaca sebagai legenda setempat.

Yang tercatat jelas adalah pelaksanaannya kini. Pada 2024, rangkaian acara diawali zikir tahlil di makam Yosodipuro dan Masjid Cipto Mulyo, lalu kirab dua gunungan apem dari Pendopo Kecamatan Banyudono. Camat Banyudono saat itu menyebut sekitar 40 ribu apem disebar, sumbangan dari 15 desa di kecamatan tersebut.

Bagaimana dengan Umbul Pengging dan kisah kerajaan lamanya?

Menurut IDN Times, kompleks Umbul Pengging dibangun Pakubuwono X pada awal abad ke-20 sebagai pesanggrahan keluarga kerajaan. Dahulu Umbul Ngabean khusus dipakai sang raja, sedangkan kerabat dan abdi dalem memakai kolam lain.

Adapun kisah bahwa Banyudono adalah bekas pusat Kerajaan Pengging, tempat hidup Ki Ageng Pengging dan Jaka Tingkir, tergolong penuturan lisan atau legenda, sebagaimana juga ditegaskan IDN Times.

Apa selanjutnya?

Tradisi Sebaran Apem 2026 sudah digelar pada 7 Agustus di Alun-alun Pengging dengan sekitar 30.000 apem, kali ini dipusatkan di satu panggung, lapor Fokus Jateng. Tradisi ini digelar setiap tahun menyambut berakhirnya bulan Sapar.

Bagi yang ingin berziarah, informasi upacara Sanggaran di makam Yosodipuro dapat dilihat di laman Visit Jawa Tengah.

Baca juga

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *