Sisa makanan dan limbah dapur yang dibuang warga biasanya berakhir menumpuk di tempat pembuangan. Di TPA Winong, Boyolali, sebagian sampah organik itu justru diolah menjadi barang yang laku dijual.
Pengelola budi daya maggot di TPA Winong, Hartanto, memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) untuk mengurai sampah organik. Kepada Radar Solo, Minggu (20/9/2026), ia menyebut usahanya kini tidak lagi sekadar mengandalkan penjualan larva, tetapi juga produk turunan dan jasa pengolahan sampah.
Intinya
- Fasilitas budi daya maggot di TPA Winong mengolah hingga sekitar 2 ton sampah organik per hari.
- Hasilnya sekitar 50 kg maggot segar per hari, dijual Rp5.000 per kilogram.
- Sisa penguraian berupa kasgot sekitar 100 kg per hari, dijual Rp2.000 per kilogram.
- Pengelola juga menawarkan jasa pengolahan limbah organik.
Apa itu maggot dan kasgot?
Maggot adalah larva lalat BSF yang rakus memakan sampah organik. Larva ini banyak dicari peternak dan pembudidaya ikan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi.
Kasgot adalah sisa atau bekas maggot, yakni material hasil penguraian sampah oleh larva. Menurut Radar Solo, kasgot berfungsi sebagai pupuk organik yang membenahi kualitas tanah, sehingga bisa dimanfaatkan di sektor pertanian.
Berapa hasil dan harga jualnya?
Sampah sisa makanan dan limbah dapur rumah tangga menjadi pakan utama larva. Dari siklus itu, Hartanto memanen sekitar 50 kilogram maggot segar per hari yang dipasarkan seharga Rp5.000 per kilogram.
Produksi kasgot mencapai sekitar 100 kilogram per hari dengan harga Rp2.000 per kilogram. Angka yang sama juga disampaikan Hartanto kepada TribunSolo.com pada Selasa (8/9/2026).
“Jadi bukan hanya menjual maggot, tetapi ada jasa pengelolaan sampah dan kasgot yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Bagi kami, maggot ini sebenarnya cuma alat pencetak uang,” ujar Hartanto, seperti dikutip Radar Solo.
Mengapa ini penting bagi warga dan pelaku usaha?
Pola ini membentuk rantai usaha sirkular, yaitu sampah yang semula tak bernilai diolah menjadi produk yang bisa dipakai lagi. Maggot mengalir ke peternak dan pembudidaya ikan, sedangkan kasgot ke petani.
“Turunan dari pengolahan sampah menjadi magot ini kan banyak. Ada jasa pengolahan sampah dan juga kasgotnya,” kata Hartanto kepada Radar Solo. Kepada TribunSolo.com, ia menilai maggot merupakan bagian dari rangkaian pengolahan yang bisa menghasilkan sumber pendapatan lain.
Konteksnya juga mendesak. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali, seperti dilaporkan Radar Solo pada Minggu (27/9/2026), mencatat timbunan sampah harian mendekati 400 ton per hari dan baru sekitar 50–60 persen yang terkelola dengan baik.
Bagaimana sikap DLH soal sampah organik?
Kepala DLH Boyolali, Suraji, menegaskan sampah organik tidak diperkenankan masuk ke blok timbunan utama (landfill) TPA, tetapi masih boleh dibawa bila untuk dikelola. DLH menyediakan fasilitas penampungan sampah organik tanpa retribusi bagi warga maupun mitra pengangkut yang sudah memilah.
Melalui program Hompimpah (Pilah Olah Sampah dari Rumah), DLH mendorong warga mengolah sampah organik sejak dari rumah. “Baik untuk pakan ternak ataupun untuk kompos, ini terserah saja, yang penting tidak dibawa ke TPA,” kata Suraji, seperti dikutip Radar Solo.
Apa selanjutnya?
Hartanto berkomitmen terus menjajaki produk turunan lain agar seluruh hasil olahan sampah organik bisa dimanfaatkan tanpa ada yang terbuang, sebagaimana dilaporkan Radar Solo.
Bagi warga yang ingin ikut mengurangi sampah, langkah awalnya sederhana: memilah sampah organik di rumah. Informasi pengelolaan sampah dapat ditanyakan ke DLH Boyolali atau dipantau melalui kanal resmi Pemkab di boyolali.go.id.
Sumber
- Radar Solo – Bukan Sekadar Jual Larva, Budi Daya Maggot di TPA Winong Boyolali Buka Peluang Bisnis Menggiurkan (20/9/2026)
- TribunSolo.com – Bukan Sekadar Jual Maggot, Hartanto Ubah Sampah Organik TPA Winong Boyolali Jadi Mesin Pencetak Cuan (8/9/2026)
- Radar Solo – Volume Sampah Tembus 400 Ton Per Hari, TPA Boyolali Hampir Overload (27/9/2026)












