Menelusuri Jejak Julukan Kota Susu yang Melekat pada Boyolali

Sejarah32 Views

Nongkrong malam di kedai susu segar, menurut Agenda Indonesia, adalah tradisi yang berawal dari Boyolali. Julukan Kota Susu pun terasa lekat, sampai-sampai ikonnya berdiri di jantung kota. Tetapi bagaimana julukan itu bermula?

Boyolali dikenal sebagai penghasil susu sapi terbesar di Jawa Tengah dan kerap dijuluki New Zealand van Java atau Selandia Baru dari Jawa. Jejaknya bisa dirunut dari kebiasaan minum susu yang dibawa masa kolonial, populernya sapi perah di Boyolali pada 1970-an, hingga Monumen Susu Murni yang diresmikan pada 2018.

Intinya

  • Pada masa kolonial, sapi perah diimpor dari India, Belanda, dan Australia pada abad ke-19 dan ke-20, awalnya untuk kebutuhan orang Eropa.
  • Di Boyolali, sapi perah disebut mulai populer pada 1970-an lewat sapi hasil persilangan Friesian Holstein.
  • Kepala lembu perah menjadi salah satu unsur lambang Kabupaten Boyolali.
  • Monumen Susu Murni setinggi 7,5 meter diresmikan pada 25 Oktober 2018, menggantikan Tugu Jam.

Sejak kapan orang minum susu?

Minum susu ternyata bukan kebiasaan asli masyarakat Jawa. Sejarawan makanan Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, kepada Kompas.com (2020) menjelaskan bahwa dulu warga pribumi menganggap susu sama dengan darah atau nanah di tubuh hewan.

Kebiasaan itu dibawa orang Eropa, terutama Belanda. Kompas.com menulis, pemerintah kolonial mengimpor sapi perah dari India, Belanda, dan Australia pada abad ke-19 dan ke-20, lalu membudidayakannya di kawasan berhawa dingin. Susu hasil perahan awalnya hanya ditujukan untuk orang Eropa, sebelum perlahan ditiru kalangan priayi dan kaum terpelajar.

Kondisi alam Boyolali cocok dengan kebutuhan itu. Peternakan sapi perah di Boyolali banyak berada di wilayah selatan dan dataran tinggi yang sejuk dengan pakan hijau melimpah, seperti diulas Agenda Indonesia. Gunung Merapi dan Merbabu membuat tanahnya subur.

Kapan Boyolali menjadi sentra susu?

Inibaru.id (2022) menulis, konon peternakan sapi perah mulai populer di Boyolali pada 1970-an. Saat itu banyak peternak memelihara sapi Friesian Holstein hasil persilangan dengan sapi jantan Jawa. Produksi susu Boyolali disebut mulai mencapai puncaknya sejak 2009.

Identitas ini juga masuk ke simbol resmi daerah. Menurut TribunnewsWiki yang merujuk situs Pemkab, lambang Kabupaten Boyolali memuat daun tembakau, setongkol jagung, dan kepala lembu perah sebagai hasil utama pertanian dan peternakan. Fauna identitas daerahnya pun sapi lokal.

Julukan New Zealand van Java muncul karena kemiripan dengan Selandia Baru yang juga terkenal sebagai produsen susu dan daging sapi. Selain susu, Kecamatan Ampel dikenal sebagai sentra pemotongan sapi lokal dan olahan seperti abon, tulis Kompas.com.

Seberapa besar produksinya?

Angkanya berubah dari tahun ke tahun. Pada 2018, Kompas.com mengutip data Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali: produksi susu segar sekitar 80.000 liter per hari, dengan populasi sapi perah sekitar 60.000 ekor.

Inibaru.id mencatat produksi susu Boyolali sepanjang 2020 mencapai 49.934.660 liter. Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan saat itu, Bambang Purwadi, menyebut produksi Januari–Maret 2021 mencapai 12.534.366 liter, naik dari periode yang sama 2020. Pada 2026, pemilik usaha susu pasteurisasi lokal, Dea, kepada Metrotvnews memperkirakan potensi susu segar dari peternak se-Boyolali sekitar 100.000 liter per hari.

Bagaimana julukan itu diabadikan?

Sebelum 2018, ikon Kota Susu baru berupa patung sapi perah. Pemkab kemudian membangun Monumen Susu Murni di depan Pasar Boyolali Kota, menggantikan Tugu Jam yang lama menjadi penanda kawasan itu.

Menurut laporan Solopos yang dimuat ulang Suara.com, desain monumen merupakan hasil sayembara dan sedianya dibangun pada 2017, tetapi tertunda karena belum ada anggaran. Pembangunannya dimulai Juli 2018 dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar.

Situs Pemprov Jawa Tengah mencatat monumen berbahan baja setinggi 7,5 meter itu diresmikan Bupati Seno Samodro pada Kamis (25/10/2018) malam, bersamaan dengan Monumen Tumpeng Merapi dan Taman Tiga Menara. Bentuknya berupa botol susu yang dituang ke gelas, sehingga warga akrab menyebutnya Monumen Susu Tumpah.

Apa selanjutnya?

Monumen ini mudah disinggahi. Menurut GNFI, lokasinya di kawasan Koplak, Siswodipuran, Kecamatan Boyolali, sekitar 150 meter dari Patung Kuda Simpang Siaga. Kawasan sekitarnya dipakai untuk Car Free Day setiap Minggu dan tampak berhias cahaya pada malam hari.

Bagi yang ingin melihat hulu ceritanya, Agenda Indonesia menyebut ada wisata sapi perah di Cepogo dan Selo, tempat pengunjung bisa melihat proses pemerahan hingga olahan seperti keju, kerupuk susu, dodol susu, dan yogurt.

Baca juga

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *