Bagi peternak sapi perah di Boyolali, kemarau panjang bukan hanya soal sumur yang mengering. Hijauan makin sulit dicari, udara siang lebih panas, dan sapi bisa malas makan. Ujungnya, setoran susu harian ikut berkurang.
Kondisi ini belum tentu cepat berlalu. Pelaksana Tugas Kepala BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo, seperti dikutip Fokus Jateng pada 2 Oktober 2026, menyebut kemarau diperkirakan berlangsung sampai akhir tahun dan tidak menutup kemungkinan berlanjut hingga awal 2027. Ulasan lengkapnya ada di Hujan Belum Merata, BPBD Boyolali: Kemarau Bisa Berlanjut ke Awal 2027.
Intinya
- Sapi laktasi butuh air jauh lebih banyak saat cuaca panas; kekurangan air beberapa jam saja bisa menurunkan susu.
- Pakan utama dianjurkan diberikan pagi sebelum pukul 08.00 dan malam setelah pukul 19.00.
- Siapkan cadangan hijauan berupa silase atau hay sebelum rumput benar-benar habis.
- Kandang perlu teduh, berventilasi baik, dan tidak terlalu padat agar panas tidak terperangkap.
Mengapa produksi susu bisa turun saat kemarau?
Sapi perah jenis Friesian Holstein (FH), yang banyak dipelihara peternak di Indonesia, rentan terhadap cekaman panas. Dosen Fakultas Peternakan IPB University Dr. Iyep Komala, seperti diberitakan Analisnews pada 23 September 2026, menjelaskan bahwa ketika indeks suhu dan kelembapan (THI) kandang melewati ambang tertentu, produksi susu menurun tajam, nafsu makan berkurang, dan risiko gangguan reproduksi meningkat.
Persoalan pakan ikut memperberat. Penyuluh pertanian Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ni Wajan Leestyawati Palgunadi, mencatat pakan sulit didapat saat kemarau sehingga sebagian peternak mengurangi jumlah ternaknya.
Bagi Boyolali, taruhannya besar. Metro TV pada 17 April 2026 melaporkan potensi produksi susu dari peternak lokal di seluruh Boyolali sekitar 100.000 liter per hari, sesuai julukan Kota Susu.
Bagaimana memenuhi kebutuhan air minum sapi?
Air adalah hal pertama yang perlu diamankan. Koperasi susu KAN Jabung di Malang, Jawa Timur, dalam panduan manajemen air yang terbit 28 Agustus 2026, merinci kebutuhan air sapi laktasi berproduksi 10–15 liter susu per hari sebanyak 60–80 liter air per hari, dan naik menjadi 80–110 liter saat cekaman panas. Sapi yang berproduksi 20–25 liter susu butuh 80–100 liter air, atau 100–130 liter saat panas.
Menurut panduan yang sama, sapi yang tidak minum selama 6 jam bisa mengalami penurunan susu 3–5 persen pada pemerahan berikutnya. Kekurangan air selama 24 jam dapat menurunkan produksi 20–30 persen dan butuh 2–3 hari untuk pulih. Beberapa langkah yang dianjurkan:
- Sediakan satu tempat minum untuk setiap 10–15 ekor sapi agar tidak berebut.
- Bersihkan tempat minum minimal sekali sehari, dua kali saat cuaca panas, cukup dengan sikat dan air.
- Beri naungan pada tangki atau tandon air. Sapi jauh lebih sedikit minum bila suhu air di atas 30°C.
- Untuk 10 ekor sapi laktasi, siapkan tandon minimal 2.000 liter; saat kekeringan pertimbangkan 3.000 liter.
Di Boyolali, sebagian warga di wilayah kering sampai harus membeli air atau bahkan menjual ternak, seperti tergambar dalam Kemarau Kuras Dompet Warga Boyolali. Karena itu, cadangan air untuk ternak sebaiknya dihitung sejak awal.
Bagaimana mengatur pakan selama kemarau?
Panduan kemarau KAN Jabung yang terbit 25 Agustus 2026 menganjurkan pakan utama diberikan pagi sebelum pukul 08.00 dan malam setelah pukul 19.00. Siang hari difokuskan untuk menjaga sapi tetap nyaman dan tidak kepanasan. Perubahan ransum dilakukan bertahap, dan sumber serat pengganti seperti jerami fermentasi disiapkan sebelum hijauan habis.
Cadangan hijauan bisa dibuat dalam dua bentuk. Menurut penyuluh Distanpangan Bali, hay adalah hijauan yang dikeringkan di bawah sinar matahari dengan kadar air 12–30 persen, sedangkan silase adalah hijauan segar yang diawetkan tanpa udara di silo, drum, atau kantong plastik. Keduanya bisa bertahan 6–8 bulan.
Untuk silase tebon jagung, KAN Jabung menjelaskan langkahnya: cacah tebon 2–3 cm, padatkan setiap lapisan 20–30 cm, tutup rapat dengan terpal plastik hingga tak ada celah udara, lalu fermentasikan minimal 21 hari. Silase yang baik berwarna hijau kekuningan dan berbau asam segar. Bila silase menjadi hijauan utama, satu ekor sapi perah membutuhkan sekitar 1,5–2 ton untuk melewati tiga bulan kemarau.
Apa yang perlu diperhatikan di kandang?
KAN Jabung menyarankan ventilasi dan sirkulasi udara diperbaiki, naungan dibuat memadai, dan kepadatan sapi dikurangi agar panas tubuh lebih mudah terbuang. Peternak juga diminta memeriksa tiga hal setiap hari: apakah sapi masih makan normal, apakah air bersih tersedia dan benar-benar diminum, serta apakah hasil pemerahan berubah.
Apa selanjutnya?
Tips di atas bersifat panduan umum dari koperasi dan penyuluh di luar Boyolali, sehingga takarannya perlu disesuaikan dengan jumlah sapi, produksi, dan ketersediaan air di kandang. Bila susu terus turun atau sapi tetap enggan makan, konsultasikan dengan petugas kesehatan hewan atau penyuluh setempat. Upaya Pemkab Boyolali mengembangkan sektor susu bisa dibaca di Boyolali Siapkan Showroom Susu, Peternak Didorong Kembangkan Sapi Perah.
Sumber
- KAN Jabung – Produksi Susu Sapi Mulai Turun Saat Kemarau? Ini yang Perlu Dilakukan Peternak (25/8/2026)
- KAN Jabung – Peternak Sering Lupa Ini: Air Minum Sapi Ternyata Lebih Penting dari Pakan (28/8/2026)
- KAN Jabung – Solusi Krisis Pakan Sapi Kemarau: Silase Tebon Jagung (26/7/2026)
- Distanpangan Provinsi Bali – Penyediaan Pakan Sapi Sepanjang Tahun (3/2/2022)
- Analisnews – Dosen Fapet IPB University: D Ruminansia dan GDFP Dorong Sapi Perah Rakyat Bertahan (23/9/2026)
- Metro TV – Produksi Susu Sapi Segar di Boyolali Suplai 2 Ribu Liter per Hari untuk Program MBG (17/4/2026)
- Fokus Jateng – El Nino Diprediksi Berlanjut hingga Awal 2027, Waspadai Potensi Kebakaran (2/10/2026)







