Bakdo Sapi di Sruni Musuk, Tradisi Syawalan Mengarak Ternak Warga

Sejarah18 Views

Boyolali.net — Sabtu (3/10/2026) — Bagi banyak keluarga di lereng Merapi, sapi bukan sekadar ternak. Di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, hewan yang menopang ekonomi rumah tangga itu bahkan ikut “berlebaran” lewat tradisi yang dikenal sebagai bakdo sapi.

Tradisi bakdo sapi digelar warga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, setiap H+7 Lebaran atau hari kedelapan bulan Syawal, bersamaan dengan Lebaran Ketupat. Ternak sapi dan kambing dimandikan, diberi wewangian dan ketupat, lalu diarak keliling kampung. Liputan ANTARA, detikJateng, Kompas TV, dan RRI mencatat tradisi ini berlangsung dari tahun ke tahun.

Intinya

  • Bakdo sapi, disebut juga syawalan atau lebaran sapi, digelar di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, setiap H+7 Lebaran.
  • Ternak dimandikan, diberi minyak wangi, diberi makan atau dikalungi ketupat, lalu diarak keliling kampung.
  • Menurut ANTARA, pada 2019 sekitar 250 ternak dari 110 keluarga ikut diarak dengan iringan gamelan.
  • Tradisi ini dimaknai warga sebagai wujud syukur atas rezeki dari hewan ternak.

Bagaimana prosesi bakdo sapi berlangsung?

Menurut sesepuh warga, Jaman, seperti dikutip Kompas TV pada 2023, rangkaian acara diawali doa dan sedekah ketupat pada pagi hari. Setelah itu sapi dimandikan, diberi wewangian dan kalung, kemudian dikirab sehingga sapi-sapi warga saling bertemu.

Tokoh masyarakat Desa Sruni, Marjono, kepada RRI Surakarta pada Maret 2026 menuturkan hal serupa. “Tradisi ini diawali dengan memandikan sapi, domba maupun kambing, kemudian diberikan wewangian, dikalungkan ketupat,” ujarnya seperti dikutip RRI.

ANTARA pada 2019 melaporkan ternak diberi makan ketupat dan diolesi minyak wangi sebelum dikirab di sepanjang jalan utama desa. Kompas TV menyebut sebagian sapi bahkan dihias motif batik semprot, dan dua gunungan sayur serta ketupat diperebutkan warga setelah arak-arakan selesai.

Sejak kapan tradisi ini ada?

Asal-usul tradisi ini dituturkan Jaman, Ketua RW 04, dalam artikel Good News From Indonesia (GNFI) yang mengutip Radar Solo. Menurut penuturannya, pada 1951 seorang pemuka agama bernama Kiai Anwar Siraj datang untuk menyebarkan Islam dan selalu mengeluarkan sapinya pada hari kedelapan Syawal sebagai wujud syukur.

Artikel GNFI yang sama menyebut kegiatan ini mulai dikemas sebagai festival sekitar 2006–2007. Versi sejarah tersebut bersumber dari tuturan warga dan belum ditemukan dalam catatan tertulis resmi.

Siapa saja yang terlibat?

ANTARA mencatat pada 2019 tradisi diikuti 110 keluarga dari tiga dukuh, yakni Mlambong, Gedong, dan Rejosari. Setiap keluarga membawa dua hingga sepuluh ekor sapi atau kambing, sehingga sekitar 250 ternak diarak dengan iringan gamelan.

Jumlahnya bisa berbeda tiap tahun. Kompas TV pada 2023 menyebut ratusan sapi ikut kirab, sedangkan GNFI pada 2025 menyebut sekitar 500 sapi, disertai penampilan reog dan pelajar SMP berbusana adat. Pemilik sapi, Sugeng, kepada Kompas TV mengatakan warga yang merantau pun rela pulang demi acara ini.

Tradisi ini sempat digelar sederhana pada 2020. Menurut detikJateng, Ketua RW 04 Desa Sruni saat itu, Hadi Sutarno, menyebut warga mengikuti instruksi pemerintah untuk menghindari kerumunan karena wabah COVID-19, sehingga tidak ada arak-arakan besar.

Apa makna bakdo sapi bagi warga?

Bagi warga Sruni, sapi adalah sumber penghidupan. “Kalau disini kan mayoritas penduduknya sebagai ternak hewan sapi, dan sebagai petani. Ya mengarak sapi ini agar sapinya sehat,” kata Marjono seperti dikutip RRI Surakarta.

Peternak sapi perah, Ranto, kepada ANTARA pada 2019 menyebut sapi telah membantu menyejahterakan keluarga. Dalam liputan yang sama, Hadi Sutarno menyebut seekor sapi perah bisa menghasilkan sekitar 20 liter susu per hari dengan harga saat itu Rp4.500–5.000 per liter; angka ini kondisi 2019 dan bisa berbeda sekarang.

Kedekatan warga dengan sapi sejalan dengan julukan Boyolali sebagai Kota Susu. Baca juga kabar tentang rencana showroom susu Boyolali bagi peternak sapi perah.

Apa selanjutnya?

Berdasarkan liputan media dari tahun ke tahun, bakdo sapi digelar tiap H+7 Lebaran, sehingga perayaan berikutnya mengikuti kalender Syawal tahun depan. Jadwal pasti untuk 2027 belum ditemukan dalam sumber yang tersedia, sehingga pengunjung disarankan memantau kabar dari pemerintah desa atau media lokal menjelang Lebaran.

Selain bakdo sapi, lereng gunung di Boyolali juga punya tradisi khas lain, seperti Udan Dawet di Banyuanyar untuk memohon hujan.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *