Kampung Lele Tegalrejo Sawit, Sentra Budidaya Lele Andalan Boyolali

Boyolali.net — Sabtu (3/10/2026) — Lele goreng di warung pecel lele sudah akrab di lidah warga. Sebagian pasokan ikan itu datang dari sebuah desa di Boyolali yang namanya telah lama melekat dengan lele.

Desa Tegalrejo di Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, dikenal sebagai Kampung Lele karena banyak warganya membudidayakan dan mengolah ikan lele. Julukan itu bermula dari usaha tiga warga pada 1990, menurut artikel Good News From Indonesia (GNFI) tahun 2016.

Intinya

  • Kampung Lele berada di Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali.
  • Budidaya dirintis tiga warga pada 1990 dan desa ini ditetapkan sebagai Kampung Lele oleh Gubernur Jawa Tengah pada 7 Juni 2006, menurut GNFI.
  • Warta Ekonomi pada Januari 2022 mencatat sekitar 2.000 kolam dengan produksi 600 ton per bulan.
  • Pada Januari 2026, KKP menargetkan Boyolali menjadi pusat lele Jawa Tengah dalam dua sampai tiga tahun.

Bagaimana Kampung Lele bermula?

Menurut GNFI, budidaya lele di Tegalrejo dirintis tiga petani, yakni Sugiarno, Sugiardi, dan Darsino, pada 1990. Mereka memulai dari kolam di pekarangan rumah. Selama sekitar tiga tahun pertama, hanya ketiganya yang menekuni usaha ini.

Setelah usaha itu terlihat menguntungkan, warga lain ikut membudidayakan lele. GNFI mencatat pada 2016 sekitar 500 orang tergabung dalam kelompok pembudidaya dan lebih dari 1.500 kolam beroperasi di desa itu.

Pada 7 Juni 2006, Gubernur Jawa Tengah saat itu, Mardiyanto, menetapkan Desa Tegalrejo sebagai Kampung Lele. Setahun kemudian, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung untuk melihat budidaya di sana, masih menurut GNFI.

Seberapa besar produksinya?

Saat Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono meninjau Kampung Lele pada Januari 2022, Warta Ekonomi melaporkan ada sekitar 2.000 kolam lele yang beroperasi dengan volume produksi 600 ton per bulan. Sekali panen, satu kolam disebut menghasilkan sekitar 1,2 ton lele berukuran 6–12 ekor per kilogram.

Dalam laporan yang sama, harga jual rata-rata saat itu Rp17.500–17.900 per kilogram, dengan pemasaran ke wilayah Solo dan Yogyakarta. Angka tersebut adalah kondisi 2022; jumlah kolam, produksi, dan harga bisa berbeda sekarang.

Warta Ekonomi juga menyebut beberapa kelompok di desa ini, antara lain Kelompok Bangun Mina Sejahtera dan Karya Mina Utama, serta kelompok perempuan Wanita Mina Utama yang mengolah hasil panen.

Apa saja olahan lele dari Tegalrejo?

Selain menjual lele hidup, warga mengembangkan produk olahan. GNFI menyebut abon lele, keripik kulit lele, dan keripik sirip lele sebagai produk turunan dari Kampung Lele.

Olahan semacam ini menambah nilai jual hasil panen sekaligus membuka pekerjaan bagi warga di luar kolam. Bagi pembaca yang tertarik usaha perikanan air tawar skala rumahan, kisah pembudidaya ikan channa di Boyolali juga bisa menjadi inspirasi.

Bagaimana pembudidaya mendapat modal?

Pada Januari 2022, JawaPos melaporkan Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP) menyalurkan pinjaman kepada pembudidaya lele di Boyolali untuk pakan, benih, dan perluasan kolam.

Salah satu pembudidaya, Sri Widodo, kepada JawaPos mengaku telah 12 tahun menekuni budidaya lele dan saat itu mengelola 15 petak kolam. Ia menyebut pengajuan pinjaman berjalan lancar dengan bantuan pendamping.

Apa rencana pemerintah untuk lele Boyolali?

Pada 2 Januari 2026, detikFinance memberitakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Boyolali menjadi pusat produksi lele di Jawa Tengah dalam dua sampai tiga tahun. KKP menyiapkan budidaya lele sistem bioflok di Kecamatan Sambi, Andong, dan Wonosamodro.

Menurut detikFinance dan GNFI, setiap lokasi mendapat 24 kolam bioflok serta 60.000 benih lele, dengan target panen sekitar 5 ton per lokasi dalam siklus dua sampai tiga bulan. Produksi lele Boyolali disebut telah melampaui 30.000 ton per tahun. Kedua sumber juga menyinggung Kampung Lele di Sawit sebagai sentra yang sudah lebih dulu ada.

GNFI menyebut program itu dikelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan dikaitkan dengan kebutuhan Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diperkirakan lebih dari 3.000 porsi per hari di tiap kecamatan. Bupati Boyolali Agus Irawan, seperti dikutip GNFI, menyatakan pemerintah daerah akan terus mendampingi para pembudidaya agar hasil panen maksimal.

Apa selanjutnya?

Sumber yang tersedia belum memuat data produksi terbaru Kampung Lele untuk 2026 maupun hasil panen program bioflok KKP. Warga yang ingin belajar budidaya atau membeli lele dan olahannya bisa menghubungi pemerintah Desa Tegalrejo atau kelompok pembudidaya setempat.

Peran koperasi desa dalam program pangan juga terus berkembang, seperti dalam kabar Koperasi Merah Putih yang diminta ikut menjaga harga. Sementara itu, pengawasan dapur program makan bergizi dibahas dalam rencana inspeksi dapur MBG oleh DPRD Boyolali.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *