Bagi banyak keluarga di Boyolali, kemarau tahun ini tidak hanya mengeringkan sumur, tetapi juga menguras isi dompet. Air yang biasanya tinggal ditimba kini harus dibeli, dan harganya tidak murah bagi warga berpenghasilan pas-pasan.
Di Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, warga membeli air dari tangki swasta seharga Rp175.000 hingga Rp300.000 per tangki, seperti dilaporkan Radar Solo dan Joglosemarnews pada awal September 2026. Di Desa Garangan, Kecamatan Wonosamodro, warga iuran untuk membeli air setelah belik sungai andalan mereka ikut mengering, menurut Espos, Senin (28/9/2026).
Intinya
- Warga Mriyan, Musuk, membeli air tangki Rp175.000–Rp300.000 per tangki; makin tinggi lokasi rumah, makin mahal.
- Sebagian warga menjual ternak untuk membeli air, sementara yang tidak punya ternak terpaksa berutang.
- Di Garangan, Wonosamodro, warga iuran Rp450.000 per 1.000 liter untuk 3–4 keluarga, dibeli tiap tiga hari.
- BPBD mencatat 5.654.000 liter air bantuan tersalur ke 13 kecamatan, 45 desa, dan 144 dukuh hingga 24 September 2026.
Berapa biaya air yang harus dikeluarkan warga?
Marsi, warga Mriyan, mengaku biasa membeli satu tangki air seharga Rp175.000. “Biasanya beli air tangki Rp175.000 untuk satu tangki. Kadang sebulan sekali. Cukup, karena anggota keluarga tidak banyak, hanya saya dan anak saya, suami sudah meninggal,” ujarnya, Minggu (6/9/2026), seperti dikutip Radar Solo.
Warga lain, Sumarmi, menyebut harga air berbeda menurut letak rumah. Menurut dia, satu tangki dijual sekitar Rp200.000, sedangkan untuk rumah di kawasan yang lebih tinggi bisa mencapai Rp300.000. Satu tangki habis dalam sekitar 10 hari bagi keluarga yang boros, atau 20 sampai 25 hari bila dihemat.
Sumarmi juga mengatakan sumur warga sudah kering sekitar tiga hingga empat bulan. Menggali sumur lebih dalam pun, katanya, tidak membuahkan hasil.
Mengapa sampai ada yang menjual ternak?
Bagi Marsi, uang untuk membeli air harus dicari dari harta yang tersisa. “Untuk membeli air, saya menjual apa saja yang ada di rumah. Ternak (sapi) itu milik saya satu-satunya. Dijual, lalu nanti beli sapi lagi kalau ada rezeki,” katanya, seperti dikutip Radar Solo.
Radar Solo mencatat, warga Mriyan yang memiliki ternak memilih menjualnya, sedangkan warga tanpa ternak terpaksa berutang demi membeli air. Joglosemarnews menambahkan, air bantuan yang datang juga harus dibagi untuk memasak, mencuci, sampai memberi minum ternak.
Bantuan memang sudah berdatangan. Pada Minggu (6/9/2026), ormas Skuad Nusantara DPC Boyolali menyalurkan enam tangki atau 36.000 liter air ke Mriyan. Menurut perwakilannya, Aldila Fajri, bantuan itu ditujukan untuk meringankan sekitar 3.000 kepala keluarga yang terdampak.
Bagaimana dengan warga Boyolali utara?
Di Garangan, Wonosamodro, warga bernama Futihatun Zakiyah bercerita kekeringan sudah terasa sejak awal Agustus 2026, dan belik sungai ikut mengering sejak awal September. Belik adalah sumur dangkal di tepi sungai yang biasanya masih berair sampai musim hujan tiba.
“Kami kalau beli begitu iuran, harganya Rp450.000 per 1.000 liter untuk 3-4 keluarga, ada yang lebih kecil 500 liter seharga Rp250.000 untuk dua keluarga. Itu biasanya kami beli tiap tiga hari sekali,” katanya kepada Espos.
Futihatun mengaku harus mengurangi anggaran kebutuhan lain demi membeli air. “Uang segitu bagi kami cukup besar, terlebih karena masyarakat di tempat kami kebanyakan menengah ke bawah,” ujarnya.
Seberapa luas bantuan air dari pemerintah?
Menurut data BPBD Boyolali yang dikutip Espos, hingga Kamis (24/9/2026) sebanyak 1.108 tangki atau 5.654.000 liter air bersih telah dikirim ke 12.082 keluarga atau sekitar 36.083 jiwa. Garangan menjadi desa penerima terbanyak, yakni 107 tangki atau 544.000 liter.
Plt Kepala BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, menyebut Wonosamodro, Wonosegoro, dan Juwangi sebagai kecamatan yang setiap tahun terdampak cukup parah. Relawan juga ikut membantu; PAC Ansor Nogosari, misalnya, mengirim air ke Garangan, Jatilawang, dan Repaking pada Minggu (27/9/2026).
Apa selanjutnya?
Warga di kedua desa berharap ada solusi jangka panjang agar tidak terus merogoh kocek setiap kemarau. Di Mriyan, Sumarmi berharap dibuatkan sumur bor yang bisa mengeluarkan air secara tetap, sedangkan warga Garangan berharap bantuan air tetap datang sembari menunggu solusi permanen. Perkembangan penanganan kekeringan dapat dipantau melalui kanal resmi Pemkab di boyolali.go.id.
Sumber
- Radar Solo – Kekeringan Parah, Warga Mriyan Boyolali Terpaksa Jual Sapi untuk Beli Air Bersih (6/9/2026)
- Joglosemarnews – Air Bersih Jadi Barang Mewah di Mriyan Boyolali, Warga Jual Ternak dan Berutang (7/9/2026)
- Espos – Belik Sungai Andalan Mengering, Warga Garangan Boyolali Iuran untuk Beli Air (28/9/2026)












