Pasokan Pisang Juwangi Seret saat Kemarau, Harga per Tandan Naik

Di ujung utara Boyolali, pisang bukan sekadar buah meja makan. Bagi ratusan pedagang dan petani di Juwangi, setiap tandan pisang adalah sumber penghasilan yang ikut naik-turun mengikuti musim.

Musim kemarau tahun ini membuat pasokan di Pasar Pisang Juwangi, Dukuh Kalongan, Kecamatan Juwangi, berkurang. Pedagang kesulitan mendapatkan barang dan harga sejumlah jenis pisang ikut naik, seperti dilaporkan Espos dari pasar tersebut pada Selasa (1/9/2026).

Intinya

  • Pasar Pisang Juwangi kini buka pada pasaran Wage, Legi, dan Pon; hari Pon ditambah sejak sekitar tiga bulan lalu.
  • Kemarau membuat pasokan berkurang dan ukuran buah lebih kecil.
  • Contoh kenaikan: pisang Rp25.000 per tandan menjadi Rp40.000, dan Rp50.000 menjadi Rp75.000.
  • Harga di pasar ini berkisar Rp20.000–Rp150.000 per tandan, dengan pembeli dari berbagai daerah.

Berapa kenaikan harga pisang?

Pedagang bernama Sutarni menyebut mencari pisang jauh lebih mudah saat musim hujan karena ketersediaan air membuat tanaman lebih produktif. “Kalau musim kemarau ini cukup sulit,” katanya, seperti dikutip Espos.

Menurut Espos, pisang yang biasanya dijual Rp25.000 per tandan dapat naik menjadi Rp40.000. Pisang dengan harga normal Rp50.000 per tandan bisa menjadi Rp75.000.

Pedagang lain, Sri Haryono, mencontohkan pisang yang biasanya Rp75.000 per tandan bisa naik menjadi Rp100.000, sedangkan yang seharga Rp100.000 bisa mencapai Rp150.000. “Pisangnya kecil-kecil kalau kemarau, kalau musim hujan itu pisangnya besar karena airnya mencukupi,” ujarnya.

Apakah pembeli berkurang?

Meski harga naik, permintaan disebut tetap tinggi. Yang berkurang justru jumlah pisang yang bisa dijual. Saat musim hujan atau panen raya, Sri Haryono bisa menjual sekitar 300 tandan dalam satu hari pasaran. “Kemarau ini, paling saya jual 100-150 tandan pisang pada hari pasaran,” katanya.

Tingginya permintaan itu pula yang membuat para pedagang sepakat menambah hari pasaran. Pasar yang semula hanya ramai pada pasaran Wage dan Legi dalam penanggalan Jawa kini juga buka pada Pon. “Sudah sekitar tiga bulan yang lalu nambah hari Pon pagi dan sore. Sore ada tapi sedikit,” kata Sri Haryono.

Sutarni, 60, yang sudah berjualan lebih dari 45 tahun, menyebut keuntungannya Rp50.000–Rp100.000 per hari pasaran dengan penjualan sekitar 30–50 tandan.

Dari mana pisang berasal dan ke mana dijual?

Pisang sebagian besar berasal dari warga Kecamatan Juwangi, sebagian lagi dari Kabupaten Grobogan yang berbatasan langsung. Belasan jenis dijual, antara lain kepok, raja, raja nangka, kawisto, morlin, lilin, tanduk, dan emas. Pisang lalu dikirim ke Solo, Klaten, Malang, Bali, Jakarta, Surabaya, Palembang, hingga Kalimantan.

Camat Juwangi Siswanto membenarkan pasar ini sebagai pasar pisang terbesar di Jawa Tengah. “Itu kalau pas pasaran Wage gitu bisa kendaraan panjang 1,5 kilometer,” katanya, seperti dikutip Espos.

Bangunan pasar sendiri sudah dibenahi. Menurut Radar Solo, Disdagperin Boyolali merampungkan rehabilitasi los utama pasar dengan konstruksi baja menggunakan APBD 2025 senilai Rp300 juta, menggantikan bangunan lama yang sempat ditopang tiang bambu.

Apa selanjutnya?

Siswanto berencana mengusulkan penataan kawasan Pasar Pisang Juwangi kepada Bupati dan Wakil Bupati Boyolali agar keramaian tidak mengganggu lalu lintas. Menurutnya, detail lokasi dan luas lahan masih perlu dibahas bersama.

Bagi pembeli, hari teramai adalah pasaran Wage, dengan aktivitas sejak sekitar pukul 04.00 WIB hingga 12.00 WIB. Pada pasaran Legi, keramaian biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 08.00 WIB.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *