Lempok, Lontong Pipih Khas Wonosegoro yang Jarang Dikenal Orang Luar

Kuliner21 Views

Boyolali.net — Jumat (2/10/2026) — Selain soto seger dan olahan susu, Boyolali punya kuliner yang lebih akrab di lidah warga wilayah utara: lempok. Bentuknya sekilas mirip lontong atau ketupat, tetapi kotak agak pipih, dan disantap bersama sayur atau sambal kacang.

Di Kecamatan Wonosegoro, lempok sudah menjadi menu sehari-hari, terutama pada sore hari. Salah satu warung yang dikenal adalah Warung Lempok Campur Mbak Rini di depan Balai Desa Wonosegoro, menurut liputan JawaPos pada Sabtu (25/10/2025).

Intinya

  • Lempok adalah olahan beras mirip lontong, tetapi berbentuk pipih, dikenal di Boyolali utara.
  • Disajikan sebagai lempok sayur (kuah sayur, tahu, sayuran) atau lempok campur (tahu, sayur, sambal kacang).
  • Warung Lempok Campur Mbak Rini di depan Balai Desa Wonosegoro menjual Rp5.000 (kecil) dan Rp7.000 (besar).
  • Warung buka mulai pukul 13.30 WIB sampai habis dan libur setiap Kamis (data Oktober 2025, bisa berubah).

Apa bedanya lempok dengan lontong?

Dicky Setyawan, penulis asal Boyolali utara, dalam tulisannya di Terminal Mojok (21/1/2021) menyebut lempok sebenarnya tak jauh beda dengan lontong dan sama-sama dibungkus daun pisang. Perbedaannya ada pada bentuk: lempok biasanya pipih atau gepeng, bukan bulat.

JawaPos menulis lempok dibuat secara tradisional dari beras pilihan yang dikukus hingga matang sempurna. Teksturnya lembut dan rasanya gurih, sehingga cocok berpadu dengan lauk dan sambal kacang.

Menurut Dicky, penganan ini cukup asing bagi sebagian orang di luar Boyolali utara, yang ia sebut meliputi Kecamatan Andong, Klego, Karanggede, Kemusu, Wonosegoro, Juwangi, dan sekitarnya. Di wilayah itu lempok mudah ditemui di pasar dan sejumlah warung makan.

Bagaimana lempok disajikan?

JawaPos mencatat dua cara penyajian. Lempok sayur disiram kuah sayur gurih dengan tambahan tahu dan sayuran. Lempok campur disajikan dengan tahu, sayur, dan siraman sambal kacang kental yang pedas gurih.

Dalam penyajian tradisional, Dicky menuliskan lempok ditemani sayur jepan atau sayuran lain lalu dibungkus daun jati. Penjual biasanya sudah memotong-motong lempok, sehingga pembeli tinggal makan dengan biting atau lidi yang juga dipakai sebagai pengunci bungkus daun jati.

Kebiasaan membungkus dengan daun jati juga ditemui pada kuliner lain di Boyolali utara, seperti tempe besengek di Juwangi.

Apakah sama dengan gendar pecel?

Tidak persis. JawaPos menyebut lempok campur mirip gendar pecel. Namun, dalam tulisan Dicky di Mojok, gendar dijelaskan sebagai olahan nasi semacam lontong yang lebih kenyal, tidak dibungkus daun pisang, dan dibuat dengan cara dikukus. Gendar juga bisa diiris tipis, dikeringkan, lalu digoreng menjadi kerupuk gendar.

Good News From Indonesia (19/12/2025), mengutip buku Kuliner Tradisional Solo yang Mulai Langka karya Dawud Achroni, menyebut pecel gendar juga dijumpai di Salatiga, Sragen, Boyolali, Wonogiri, dan sekitarnya. Isinya biasanya selada air, kecambah, bunga turi, bayam, kol, kenikir, dan kecipir yang disiram bumbu kacang.

Sumber yang sama mencatat gendar dulu dibuat dengan campuran bleng atau boraks. Karena dikhawatirkan berdampak pada kesehatan, sebagian pembuat kini memproduksi gendar tanpa bleng.

Informasi penting untuk masyarakat

  • Lokasi: Warung Lempok Campur Mbak Rini, tepat di depan Balai Desa Wonosegoro, sebelah timur SDN 1 Wonosegoro.
  • Jam buka: setiap hari mulai pukul 13.30 WIB hingga habis; libur hari Kamis.
  • Harga: porsi besar Rp7.000, porsi kecil Rp5.000, berlaku untuk lempok sayur maupun campur.

Data di atas berasal dari liputan JawaPos Oktober 2025, sehingga harga dan jam buka bisa berubah. JawaPos juga mencatat warung biasanya sudah ramai antrean dalam dua jam setelah buka.

Apa selanjutnya?

Bagi yang melintas di Wonosegoro, lempok bisa menjadi pilihan makan sore yang ramah di kantong. Wisata kuliner Boyolali utara juga bisa dilanjutkan dengan berburu tempe besengek di Juwangi sambil mampir ke Lodji Papak Juwangi, atau mencicipi nasi tumpang cingur di Ampel saat kembali ke arah kota.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *