BOYOLALI — Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tetap dijaga pemerintah pada angka Rp6.500 per kilogram sepanjang 2026. Di Jawa Tengah, harga di lapangan justru masih berada di atas angka itu — kabar baik bagi petani Boyolali yang memasuki musim panen ketiga tahun ini.
Data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat rata-rata pembelian gabah kering panen di tingkat petani secara nasional mencapai Rp6.566 per kilogram, sedikit di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan tercatat Rp7.696 per kilogram, masih di bawah HPP GKG yang ditetapkan Rp8.000 per kilogram.
Di Kabupaten Sragen, tetangga Boyolali, harga GKP hingga pertengahan Oktober 2026 masih bertahan di kisaran Rp7.900 hingga Rp8.300 per kilogram. Pada awal musim panen, harga bahkan sempat menembus Rp8.500 per kilogram, dan di sejumlah daerah mencapai Rp9.000 per kilogram. Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Sragen, Suratno, menyebut kondisi itu sangat menggembirakan bagi petani, karena harga di atas Rp7.500 per kilogram saja sudah disyukuri.
Baca juga:
- 73 Sumur Dalam Dibangun untuk Sawah, Boyolali Bidik Panen 3 Kali
- Mendes Yandri: 20 Persen Pendapatan KDMP Sobokerto Boyolali untuk PADes
- Harga Sembako Pekan Ini: Cabai Masih Mahal, Beras Stabil
HPP Gabah Rp6.500 Berlaku untuk Semua Kualitas
HPP gabah Rp6.500 per kilogram ditetapkan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri. Ketentuan ini berlaku untuk gabah kering panen dengan segala kualitas atau any quality, dan berlaku hingga 2029.
Perum Bulog bertugas menyerap gabah petani sesuai HPP tersebut. Hingga 14 Oktober 2026, realisasi penyerapan Bulog tercatat mencapai 4,13 juta ton setara beras, sudah melampaui target awal 4 juta ton. Bulog membeli gabah ketika harga di lapangan berada di bawah HPP. Sebaliknya, ketika harga pasar di atas HPP — seperti yang terjadi di Sragen — petani bebas menjual ke penggilingan atau tengkulak dengan harga yang lebih tinggi.
Apa Artinya bagi Petani Boyolali
Bagi petani Boyolali, harga gabah yang bertahan di atas HPP berarti pendapatan panen musim ini relatif aman. Kabupaten Boyolali sendiri membidik panen padi tiga kali setahun, didukung pembangunan 73 sumur dalam untuk mengairi sawah di musim kemarau. Produksi yang terjaga membuat petani tidak perlu terburu-buru menjual gabah saat harga sedang rendah.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan petani agar harga jualnya maksimal. Pertama, jemur gabah hingga kadar airnya cukup rendah sebelum dijual, karena gabah basah biasanya dihargai lebih murah. Kedua, bandingkan harga di beberapa penggilingan sebelum melepas hasil panen. Ketiga, bila harga di lapangan jatuh di bawah Rp6.500 per kilogram, petani bisa menjual ke Bulog yang wajib menyerap sesuai HPP. Keempat, simpan nota penjualan sebagai bukti bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
Petani juga disarankan memantau harga melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) atau kelompok tani setempat, karena harga gabah bisa berbeda antarwilayah tergantung kadar air, varietas padi, dan jarak ke penggilingan. Informasi harga terbaru juga dapat dicek melalui Panel Harga Bapanas.
Dengan HPP yang terjaga dan harga lapangan yang masih tinggi, musim panen kali ini menjadi momentum yang baik bagi petani Boyolali untuk memperoleh hasil yang sepadan dengan kerja kerasnya di sawah.
Sumber: Badan Pangan Nasional via Antara, Solopos (18 Oktober 2026), Kementerian Pertanian, Perum Bulog. Artikel ini ditulis Minggu, 8 November 2026.
Info Belanja:
Website: https://www.klatenshop.com
Toko offline: Jl. Raya Solo-Jogja KM 11, Pengung, Klepu, Ceper, Klaten — lihat di Google Maps












